Kamis, 24 Oktober 2019

The Old Man and The Sea



Judul : The Old Man and The Sea
Penulis : Ernest Hemingway
Penerbit : Liris
Penerjemah : Dian Vita Ellyati
ISBN : 978-602-96980-4-9
Tebal : 131 hlm


Bagaimana jika keberuntungan selalu tidak berpihak padamu, padahal sepertinya usahamu telah dikerahkan secara maksimal. Seperti seorang nelayan asal Kuba yang bernama Santiago ia telah berhari-hari berlayar untuk mendapatkan ikan tapi tak satupun ia dapatkan. Dilautan ia mendapat banyak rintangan dan kejadian-kejadian yang membuat ia mendapatkan pelajaran yang berharga. Bagaimana ia bertahan hidup dengan bekal yang minim dan terombang-ambing ditengah lautan. Novel ini menggambarkan bagaiman kerasnya kehidupan sesungguhnya.

Keberuntungan seperti sedang gtidak berada pada hidup Santiago, dari dimulai kawannya yang seorang bocah laki-laki meninggalkannya untuk berlayar sendirian karena orang tuannya melarang berlayar dengan Santiago yang tidak kunjung mendapatkan ikan. Ketika kailnya mulai bergerak dan ikan memakan umpannya betapa terkejutnya Santiago melihat ikan Marlin yang luar biasa besar dan indah yang diperkirakan akan dijual mahal. Namun ternyata ikan itu unik tidak begitu saja menyerahkan diri untuk ditangkap. Santiago bersusah payah menaklukkannya, namun ia mengerti dan akhirnya mengikuti dan mempelajari permainan si ikan. Santiago membiarkannya begitu saja berenang dengan umpan yang dimakan, kemudian ketika ikannya sudah  mulai lelah dan menyerahkan diri Santiago menangkapnya dan mengikatnya di kapalnya karena ikan yang terlalu untuk dimasukkan kedalam kapal. Darah segar dari ikan mengalir kelautan bau anyir menyebar. Di sepanjang jalanan menuju pulang, karena bau yang menyengat tersebut mengundang para ikan untuk menyantapnya. 

Hingga pada akhirnya Santiago pulang hanya membawa luka-luka bekas jerih payahnya menangkap ikan Marlin yang hanya tersisa ekor dan kepala. Novel ini memberikan pelajaran kadang apa yang benar-benar kita usahakan belum tentu berakhir indah, kenyataan hidup memang seperti itu. Memberikan gambaran betapa kerasnya hidup dan usaha yang tidak ada putus-putusnya, dan meyelesaikan apapun sampai selesai.
Share:

Rabu, 16 Oktober 2019

Perempuan di Titik Nol


Firdaus Pada Era Sekarang

Aku telah selesai membaca Novel karya Nawal El Sadaawi, Perempuan di Titik Nol. Novel ini mengisahkan sisi gelap yang dihadapi perempuan-perempuan Mesir di tengah kebudayaan Arab yang kental dengan nilai-nilai patriarki. Dimana kedudukan perempuan ditempatkan dibawah laki-laki, ketika perempuan disini masih mengalami ketimpangan dan tidak bisa mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki. Didalam novel ini diceritakan kehidupan seorang perempuan yang sedari kecil mengalami kehidupan yang keras dan penuh penderitaan dan penderitaan tersebut berasal dari kaum laki-laki, diceritakan perempuan korban dari budaya patriarki menempatkan mereka dalam konflik, dimana mereka tidak mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki, tidak mendapat kebebasan dalam berpolitik, dan juga ketika dalam pernikahan yang menempatkan perempuan dalam kungkungan hierarki suami. Yang menjadikan mereka objek dari kekerasan, tidak bisa bergerak bebas, dan tidak memiliki kesempatan untuk mengatur hidupnya sendiri. Sejak kecil Firdaus telah merasakan ketidak adilan ini, dia melihat dimana ayahnya diperlakukan sebagai seorang raja dirumahnya dan ibunya selalu tunduk atas apa perintah suaminya itu, bahkan masih menghukum ibunya ketika melakukan kesalahan. Dan pada suatu ketika keadaan memaksanya untuk menjadi pelacur, namun disini ia menemukan suatu hal yang berbeda dia merasa lebih berharga dimana setiap orang yang menginginkannya harus rela membayar, bahkan seorang presiden atau raja pun rela memberikan segalanya untuk Firdaus sampai dia berada pada puncak yaitu menjadi pelacur kelas atas dia merasakan dimana menjadi wanita yang dihargai, memiliki apapun yang dia mau. Hidupnya jika dilihat dari materi tidak ada bedanya dengan para kaum wanita-wanita bangsawan atau pun para istri pejabat

Menyoroti dari novel ini, lalu bagaimana yang terjadi pada era sekarang? Masih adakah Firdaus-Firdaus lagi. Dan  bagaimana bentuk patriarki yang terjadi di Indonesia?. Sebenarnya budaya Patriarki telah sejak lama terjadi di Indonesia, bisa dilihat dari sistem hierarki kerajaan pada zaman dahulu, seperti yang telah di perjuangkan Ibu Kartini atas keresahannya dengan situasi lingkungan kerajaan yang terjadi di keluarganya. Bentuk patriarki kerajaan zaman dulu yaitu beranggapan bahwa tugas perempuan hanyalah macak, manak, masak yang artinya tugas mereka hanyalah mengurusi urusan rumah tangga saja. Dulu sebelum ada emansipasi wanita, perempuan tidak boleh bersekolah tinggi-tinggi,tidak mempunyai hak politik, dipaksa menikah muda dengan laki-laki yang sudah dipilihkan orangtua nya dan harus mau tidak boleh menolak. Lalu pada penjajahan Jepang adanya Jugun Ianfu dimana pada saat itu penjajah Jepang tidak hanya mengeksploitasi sumber daya alam dan tenaga melainkan perempuan pun menjadi korban.

Lalu bagaimana Firdaus di zaman sekarang, apakah masih ada Firdaus. Sekarang pun masih saya jumpahi, dimana soal berpakain dari perempuan sering disalahkan atas apa yang menimpanya seperti kekerasan seksual disebabkan oleh berpakaian atau dalam dunia pekerjaan masih sering kali kemampuan perempuan diremehkan dari laki-laki. Padahal untuk kasus kekerasan seksual perempuan adalah korban dari kemesuman laki-laki tapi masih di tambahi lagi dengan menyalahkan pakaian yang dipakai. Lalu apa yang dilakukan laki-laki sebenarnya. Apakah perempuan akan tetap seperti ini. Kejadiannya memang mirip dengan Firdaus tapi, Firdaus menanang oleh keadaan. Sedangkan sekarang bagaimana nasib para wanita sekarang. Mereka cenderung pasrah dengan keadaan yang ada apabila mereka tidak cukup memiliki bekal seperti sekolah, ataupun skil untuk bekerja, kebanyakan lebih memilih diam dan menerima keadaan tanpa bisa memberontak.

Share: