Cerita dari Digul
merupakan buku yang berisi lima kisah tentang pengalaman para tahanan politik
saat diasingkan di Boven Digul Papua. Para penulis juga merupakan mantan
tawanan digulis dimana keadaan mereka selain harus berpisah dengan keluarga dan
orang terkasih melainkan juga harus mendapatkan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM)
oleh Kolonial belanda selama 15 tahun.
Pelanggaran HAM
tersebut dimulai kerja paksa yang membuat kehidupan para tawanan sangat
terbatas akan banyak hal termasuk untuk diri sendiri. Ketika mencoba untuk
melarikan para tawanan mendapatkan kesulitan diantaranya adalah logistik yang
membuat mereka mendapatkan sebuah wabah penyakit. Yang membuat simalakama para
tawanan tersebut untuk tetap bertahan ataupun keluar dari lingkup Digul
Tersebut.
Buku ini menjelaskan
tentang sikap elit bangsa kolonial pada saat itu yang membenci akan pergerakan
kiri Komunis, para elit ini tak segan langsung melakuakan sistem pengadilan
terbuka dimana ketika menemukan orang-orang yang termasuk daftar hitam akan
langsung ditangkap dan melakuakan hal yang mengenyampingkan masalah hak asasi
manusia itu sendiri.
Para tawanan politik
ini yang kebanyakan dari masyarakat sipil yang pernah melakukan upaya
perlawanan dan pada akhirnya mereka
gagal dan dikembalikan kembali ke daerah Digul, yang tawanan tersebut menyerah
tanpa ada lagi usaha yang lebih dikarenakan sudah tahu bagaimana akhir dari
perlawanan mereka. Sangat sulit untuk mendapat kebebasan hidup dan kemerdekaan
secara manusiawi. Yang pada posisinya tidak ada kesempatan untuk menanyakan
tentang bagaimana keadaan hak dari tawanan tersebut.
Ketika ditarik dengan
keadaan saat ini kemajuan teknologi yang sangat diagung agungkan dimana kita
diberikan ruang yang luas untuk mengemukakan pendapat. karena saat ini media
dan jangkauannya lebih luas, contohnya dengan adanya sosial media dan media
online lainnya. Dan hal tersebut sangat bertolak belakang dengan kehidupan pada
saat tawanan itu ada dimana kebebasan dan juga hak asasi manusia dibatasi dan
ditentukan oleh pemerintah yang berwenang.
Namun kemajuan
teknologi seperti ini seperti pisau bermata dua, semua orang dengan mudah dan
bebas berinteraksi dengan sosial media, dibalik itu terdapat beberapa orang
yang terlarut akan kemajuan teknologi yang mengakibatkan orang tersebut apatis
terhadap hal-hal yang ada disekitarnya . yang hanya berorientasi akan hal-hal
virtual hingga mereka terlalu asik dan tenggelam dalam dunianya dan mengisolasi diri sendiri.
Hal ini cukup membuat
miris ketika tenggelam akan hal-hal yang penting dari kehidupannya seakan
menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Kalau sudah seperti ini mereka
akan berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan kesenangan yang bersifat
sementara ini mengindahkan hal-hal sederhana seperti keluarga, dan kehidupan
sosial mereka.
Ini sangat bertolak
belakang dengan pada masa kolonial. dulu para para tawanan bersusah-payah untuk
mendapat kebebasan dan mendapatkan hak sebagai manausia. Saat ini dengan segala
kemudahan dan kemajuan teknologi digunakan untuk hal-hal yang negatif. Dan
kebanyakan dari masyarakat tenggelam menyamankan diri dengan mengisolasi diri
dari kehidupan sosial dan keluarga yang normal.
Kolonialisme dan
apapun itu tidak dapat dibenarkan dimana mereka yang kuat dan berpengaruh dengan
bebas mengeksploitasi para manusia yang lemah, mereka yang lemah diperas tenaga
dan seluruh kehidupannya dengan mengabaikan penderitaan yang mereka alami untuk
kepentingan elit politik. Para masyarakat yang memperjuangkan hidupnya dipaksa
diam dan dibuang di Digul tanpa kata adil yang seharusnya mereka berhak
memberikan alasan mereka melakukan pemberontakan,
Jika kolonialisme yang
dilakukan bangsa Belanda ini tidak dibenarkan maka praktik menindas elit
politik Indonesia pada saat ini pun sama. dilihat kenyataannya pemerintah saat
ini tidak ada bedanya dengan para kolonial Belanda pada saat itu sama sama
tidak ada ketentraman dan juga kebebeasan dalam berpikir karena dibatasi oleh
peraturan dan juga norma terkait.
Pada akhirnya para
masyarakat tidak berdaya dengan semua kebijakan pemerintah dan berakhir hanya
pasrah dengan ketidakadilan yang dialami karena usaha yang telah dilakukan
hanya akan mengambang tidak ada solusi konkret dari pemerintah karena mereka
para elit akan berlindung dibalik tirani kekuasaannya.
