Sabtu, 29 Februari 2020

Kontradiksi Kebebasan dan Kolonialisme




Cerita dari Digul merupakan buku yang berisi lima kisah tentang pengalaman para tahanan politik saat diasingkan di Boven Digul Papua. Para penulis juga merupakan mantan tawanan digulis dimana keadaan mereka selain harus berpisah dengan keluarga dan orang terkasih melainkan juga harus mendapatkan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) oleh Kolonial belanda selama 15 tahun.
Pelanggaran HAM tersebut dimulai kerja paksa yang membuat kehidupan para tawanan sangat terbatas akan banyak hal termasuk untuk diri sendiri. Ketika mencoba untuk melarikan para tawanan mendapatkan kesulitan diantaranya adalah logistik yang membuat mereka mendapatkan sebuah wabah penyakit. Yang membuat simalakama para tawanan tersebut untuk tetap bertahan ataupun keluar dari lingkup Digul Tersebut.
Buku ini menjelaskan tentang sikap elit bangsa kolonial pada saat itu yang membenci akan pergerakan kiri Komunis, para elit ini tak segan langsung melakuakan sistem pengadilan terbuka dimana ketika menemukan orang-orang yang termasuk daftar hitam akan langsung ditangkap dan melakuakan hal yang mengenyampingkan masalah hak asasi manusia itu sendiri.
Para tawanan politik ini yang kebanyakan dari masyarakat sipil yang pernah melakukan upaya perlawanan dan  pada akhirnya mereka gagal dan dikembalikan kembali ke daerah Digul, yang tawanan tersebut menyerah tanpa ada lagi usaha yang lebih dikarenakan sudah tahu bagaimana akhir dari perlawanan mereka. Sangat sulit untuk mendapat kebebasan hidup dan kemerdekaan secara manusiawi. Yang pada posisinya tidak ada kesempatan untuk menanyakan tentang bagaimana keadaan hak dari tawanan tersebut.
Ketika ditarik dengan keadaan saat ini kemajuan teknologi yang sangat diagung agungkan dimana kita diberikan ruang yang luas untuk mengemukakan pendapat. karena saat ini media dan jangkauannya lebih luas, contohnya dengan adanya sosial media dan media online lainnya. Dan hal tersebut sangat bertolak belakang dengan kehidupan pada saat tawanan itu ada dimana kebebasan dan juga hak asasi manusia dibatasi dan ditentukan oleh pemerintah yang berwenang.
Namun kemajuan teknologi seperti ini seperti pisau bermata dua, semua orang dengan mudah dan bebas berinteraksi dengan sosial media, dibalik itu terdapat beberapa orang yang terlarut akan kemajuan teknologi yang mengakibatkan orang tersebut apatis terhadap hal-hal yang ada disekitarnya . yang hanya berorientasi akan hal-hal virtual hingga mereka terlalu asik dan tenggelam dalam dunianya  dan mengisolasi diri sendiri.
Hal ini cukup membuat miris ketika tenggelam akan hal-hal yang penting dari kehidupannya seakan menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Kalau sudah seperti ini mereka akan berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan kesenangan yang bersifat sementara ini mengindahkan hal-hal sederhana seperti keluarga, dan kehidupan sosial mereka.
Ini sangat bertolak belakang dengan pada masa kolonial. dulu para para tawanan bersusah-payah untuk mendapat kebebasan dan mendapatkan hak sebagai manausia. Saat ini dengan segala kemudahan dan kemajuan teknologi digunakan untuk hal-hal yang negatif. Dan kebanyakan dari masyarakat tenggelam menyamankan diri dengan mengisolasi diri dari kehidupan sosial dan keluarga yang normal.
Kolonialisme dan apapun itu tidak dapat dibenarkan dimana mereka yang kuat dan berpengaruh dengan bebas mengeksploitasi para manusia yang lemah, mereka yang lemah diperas tenaga dan seluruh kehidupannya dengan mengabaikan penderitaan yang mereka alami untuk kepentingan elit politik. Para masyarakat yang memperjuangkan hidupnya dipaksa diam dan dibuang di Digul tanpa kata adil yang seharusnya mereka berhak memberikan alasan mereka melakukan pemberontakan,
Jika kolonialisme yang dilakukan bangsa Belanda ini tidak dibenarkan maka praktik menindas elit politik Indonesia pada saat ini pun sama. dilihat kenyataannya pemerintah saat ini tidak ada bedanya dengan para kolonial Belanda pada saat itu sama sama tidak ada ketentraman dan juga kebebeasan dalam berpikir karena dibatasi oleh peraturan dan juga norma terkait.
Pada akhirnya para masyarakat tidak berdaya dengan semua kebijakan pemerintah dan berakhir hanya pasrah dengan ketidakadilan yang dialami karena usaha yang telah dilakukan hanya akan mengambang tidak ada solusi konkret dari pemerintah karena mereka para elit akan berlindung dibalik tirani kekuasaannya.

Share:

2 komentar: