Saat hari mulai senja
pada 24 Agustus 2019 kulangkahkan kaki ku menuju jalan raya yang mulai sepi
kendaraan karena orang-orang mengurangi aktifitas dan akan bergegas pergi ke masjid. Saat itu aku mengikuti pra Diklat UKM Lembaga Pers Mahasiswa SM (Spirit Mahasiswa). Bersama 14 temanku,
kami melangkah bersama menyusuri jalan Raya Telang untuk menjemput kendaraan
yang akan membawa kami ke Pelabuhan Kamal, saat diperjalanan kami semua
bertanya-tanya kemana tujuan kita nanti. Yang katanya jalan-jalan, Sebenarnya
akan jalan-jalan kemana kita.
Sesampai di perempatan
Jalan kulihat mobil bemo yang sudah menunggu, kami cepat-cepat menaiki
kendaraan tersebut karena kami berlima belas maka kami berdesak-desakan di
dalam mobil, di dalam mobil sesekali kami bersendau gurau tak peduli terasa
sesak karena berdesakan, kami masih tertawa riuh di dalam mobil. Bagi sebagian
mungkin ini kali pertama yang sangat seru. Hari sudah mulai gelap kulihat
semburat jingga senja di sebelah kanan jalan menuju pelabuhan dan suara adzan
maghrib mengiringi perjalanan kami, sungguh indah dan tenang sekali.
Mobil berhenti di
pelabuhan kami cepat-cepat membeli tiket untuk naik kapal, oh ya tadi sebelum
berangkat kami diberi uang lima puluh ribu per anak dan dijadikan satu dan
bagaimana caranya kita harus bisa bertahan hidup dengang uang tersebut. Aku
sebagai bendahara, sebenarnya aku kurang bisa manajemen uang tapi bagaimana
lagi. Salah satu temanku bernama Taki diutus untuk membeli dan menawar tiket
kapal karena dia asli Madura, ya kami berharap diberi harga yang lebih murah
hehe, akhirnya kami dapat harga empat ribu per anak lumayan daripada harga
normal lima ribu.
 |
| Beberapa temanku yang berada di kapal |
Dikapal kami mencari
tempat duduk masing-masing sebagian teman cowok ada yang duduk di lantai kapal,
suara sirine kapal berbunyi menandakan kapal akan berlayar. Angin yang
berhembus sangat kencang seperti memanggil rasa kantuk kami, sebagian temanku
ada yang tertidur, ada juga yang sedang bercengkrama dengan teman sebelahnya.
Aku sibuk memotret temanku yang sedang tertidur karena menurutku lucu. Aku
sangat menikmati saat di kapal, angin yang sepoi-sepoi ditemani teman-temanku
mungkin ini kali pertamaku melakukan perjalanan mandiri seperti ini, seru
sekali.
Saat adzan isya’
berkumandang kapal mulai berlabuh ke dermaga menandakan perjalanan sesungguhnya
akan dimulai. Disana kami diberi penugasan dan dibagi kelompok, penugasannya
yakni nanti kita akan d suruh wawancara beberapa orang di Tunjungan Plaza,
tempat perbelanjaan yang lumayan bagus dan berisi oleh para pengunjung
elit-elit kelihatannya. Aku berkelompok bersama Juan. Setelah itu kami
melanjutkan perjalanan dengan naik bemo, seperti biasa temanku yang bernama
Taki yang di utus untuk menawar dan membayar kendaraan, kami menaiki bemo
menuju Tunjungan Plaza. Kami banyak bercanda di dalam mobil sudah tidak perduli
tentang bau badan dan keringat yang bercucuran, yang aku pikirkan hari itu
hanya perjalanannya aku sangat menikmati. Mobil berjalan minggir ke
trotoar Kami satu persatu turun dari mobil,
aku berjalan bersama temanku Juan kami sempat mengobrol tentang apa yang harus
kita lakukan nanti, topik apa yang akan kita bahas, jujur kami sama-sama
bingung aku jarang pergi keluar dan berinteraksi dengan orang asing, Juan pun
begitu . Kami semua berjalan bersama menuju TP melewati trotoar jalan
menyebrangi jembatan penyebrang jalan, mengikuti mbak Irma dan mas Surya.
Setelah menyebrangi jalan, lalu kami bersama kelompok masing-masing mulai
measuki Tunjungan Plaza. Aku dan Juan mulai memasuki gedung aku melihat didalam
TP sedang ramai pengunjung, mungkin karena hari sabtu malam minggu, aku melihat
ada orang-orang yang sekedar jalan-jalan bersama pacar, belanja bersama teman,
pergi bersama keluarga, dan ada pula yang sendirian. Mereka sama-sama sibuk
dngan dunianya masing-masing, sibuk dngan kelompoknya sendiri. Aku dan Juan
mulai memasuki food court di dalamnyalebih ramai daripada tempat yang lainnya,
kulihat harga makanannya rata-rata diatas dua puluh ribu, mungkin jika kita
ingin makan disitu harus menyiapkan uang diatas lima pulu ribu untuk satu
orang. Untuk satu porsi nasi goreng sekitar tiga puluh ribuan sedangkan jika
kita bandingkan dengan harga di pedagang pinggir jalan, mungkin sepuluh ribu
sampai lima belas ribu sudah dapat. Tapi kenapa kebanyakan orang lebih memilih
beli di mall-mall besar, miris memang tapi bagaimana lagi kadang mungkin ada
orang yang mempunyai pemikiran bahwa makan ditempat elit dapat menempatkan
status social lebih tinggi, padahal kenyataannya hidupnya tetap gitu-gitu aja.
Aku dan Juan mulai
mencari target untuk bisa kita ajak ngobrol, pertama yang kami lihat yaitu
satpam, awal obrolan kita mencoba menanyainya tentang dimana letak tempat ini
itu, tapi tidak semudah yang dibayangkan mereka sangat sibuk dengan
pekerjaannya, dilihat dari wajahnya terlihat ketidaknyamanan saat kita
wawancarai. Sebenarnya wawancara dengan satpam kemarin kurang maksimal, entahla
mungkin aku dan Juan tidak bisa memulai dan mencari topic obrolan yang tepat. Bahkan mungkin karena kami gugup dan Pak Satpam menganggap kami aneh sempat pas kita jalan-jalan kami diikuti dan itu membuat kami tidak nyaman, kami merasa bahwa seseorang cenderung melihat penampilan, contohnya Satpam tersebut padahal niat kita hanya ingin bertanya kenapa responnya se curiga itu dengan kami. Apa karena penampilanku dan Juan yang kumal karena belum mandi seharian, bisa dibandingkan dengan orang-orang yang berpakaian rapi pasti mereka bisa lebih ramah dan menghargai. Selanjutnya aku sempat ngobrol dengan satu pengunjung pertama pengunjung
mungkin umurnya antara dua puluhan tahun aku yang ngajak ngobrol kami hanya
ngobrol basa basi saja karena memang aku bingung mau ngomong apa, Juan pun
begitu. Selanjutnya kami berhasil ngobrol dengan satu pengunjung, satu pemilik
kios, kios tersebut lumayan sepi mereka menjual aroma terapi untuk kesehatan. Penjualnya sangat senang ketika kami mulai bertanya-tanya tentang produk mereka karena sebelumnya kulihat tidak ada satupun orang yang menghampiri kios tersebut. Mereka bercerita tentang produknya dan mengklaim kalau produknya alami dan bagus harganya sekitar seratus lima puluh sampai dua ratus ribu rupiah, harga yang lumayan untuk kantong pelajar seperti kami. Setelah mengetahui arganya kami pun pamit undur diri kepada mbak penjual dan jujur bilang bahwa kami sedang tidak bawa uang cukup untuk membelinya, dan satu tukang bersih-bersih, tapi ya begitulah kami belum berhasil
maksimal memperoleh info dan cerita menarik dari mereka. Memang sangat disesali
tapi tempat dan kondisi tidak mendukung, contohnya saat wawancara petugas pembersih,
mereka sangat sibuk dengan pekerjaannya dan mereka merasa takut untuk
meninggalkan pekerjaannya sebentar untuk sekedar menjawab pertanyaan kami. Lalu
untuk pengunjung cenderung menghindar ketika diajukan pertanyaan.
Jam sembilan lewat kami
kembali berkumpul lagi, kami melanjutkan perjalanan dengan naik bemo menuju
lokasi selanjutnya yaitu Taman Bungkul, kami sempat berkumpul bersama
berdiskusi tentang penugasan selanjutnya, kami diberi tugas untuk mewawancarai
tiga komunitas, dua pengunjung, dan dua pembeli. Aku berkelompok dengan Talitha,
kami diberi waktu sekitar satu jam untuk wawancara.
Aku dan Talitha mulai
menyusuri taman mencari target, pertama kami berkesempatan mewawancarai
sepasang suami istri penjual kaki lima mereka berjualan makanan dan minuman
ringan saat diwawancarai mereka sangat hangat menjawab pertanyaan kami. Mereka
bercerita bahwa mereka sekitar 3 tahun berjualan makanan dan minuman di Taman
Bungkul sebelumnya mereka berdua berjualan kaos persebaya karena untuk memenuhi
kebutuhan keluarga karena anak-anaknya masih kecil, mereka sekarang berjualan
makanan dan minuman hanya untuk mengisi waktu luang karena memang kebiasaan
jadi tudak nyaman kalau hanya minta uang ke anak. untuk berjualan di Taman
Bungkul mereka bercerita kalau pembeli disini tidak pasti dan kadang ramai
kadang sepi, tapi kata mereka masih cukup untuk kehidupan sehari-hari. Mereka
juga bercerita kalau jam Sembilan satpol pp sudah mulai berdatangan untuk
mengamankan para pedagang-pedagang yang masih membuka lapak di sekitar Taman,
padahal mereka berjualan hanya di waktu sore. Memang perjuangan untuk mencari
uang sangatlah berat bisa kami dengar dari cerita pedagang tadi.
Kemudian kami
mewawancarai Komunitas yaitu Tuban Rantau Community, komunitas ini adalah
tempat dimana berkumpulan para perantau dari Tuban yang berkumpul di Surabaya,
mereka bersama-sama untuk kebersamaan dan juga kadang ada acara bakti sosial,
karena mereka semua cowok cenderung tidak serius saat kita mencoba tanya-tanya
yang lebih dalam. Saat diwawancarai mereka cenderung bercanda tidak serius, ya membuatku sedikit malu karena setiap ditanya mereka hanya tertawa, memang bukan masalah kalau hanya tertawa tapi tetap fokus dengan pertanyaan, tapi mereka tidak menjawab pertanyaan kami dengan baik dan juga sempat aku lihat salah satu anggota mereka merekam kami saat itu, apakah kami berdua aneh atau bagaimana, semisal kita ada yang salah kenapa tidak bilang langsung saja.
 |
| Saat istirahat dan bercengKrama di Taman Bungkul |
Pas aku dan Talitha
duduk karena capek di bangku taman kami dihampiri seorang perempuan yang
memakai baju rapi membawa kertas dan membawa selebaran, perempuan tersebut
menawari kami untuk donasi ke para penderita difabel, karena aku dan Talitha
sedang tidak membawa uang aku berkata jujur dan
minta maaf karena belum bisa member sumbangan, tapi sebelum mbaknya
pergi aku sempat mengajaknya ngobrol. Mbaknya bernama Fina aktif kuliah di
Unair semester delapan bercerita kalau ini merupakan start up/platform bernama
peduli.com buatan dia dan para teman-temannya di kampusnya untuk peduli difabel
di area Surabaya. Kata mbaknya respon masyarakat ketika dimintai bantuan cukup
baik rata-rata bersenang hati untuk dimintai bantuan. Jadi pada dasarnya setiap manusia memiliki hati yang baik, tapi kata mbak Fina juga masih ada yang menolak kata dia karena alasannya yang kurang bisa diterima oleh mereka yang ingin menyumbang, ada juga yang beralasan ga punya uang atau ketinggalan dompet. Intinya sebagai sesama manusia kita harus memiliki kesabaran untuk saling mengingatkan karena memang pada dasarnya semua manusia itu baik.
Selanjutnya kita
berkumpul untuk evaluasi apa saja yang tadi kita dapat dari wawancara beberapa
narasumber di Taman Bungkul. Banyak cerita yang aku dapat dari teman-temanku
dari kisah inspiratif sampai kisah sedih, kami semua berbagi cerita
masing-masing yang didapat saat wawancara. selain itu kami juga dapat materi
dari mas Iskak materi tentang analisis sosial. Tapi materi belum selesai kita
terpaksa harus melanjutkan perjalanan lagi karena ada kendala dan hari sudah
semakin larut malam.
Selanjutnya kami
melanjutkan perjalanan bersama menuju Stasiun Kereta Api Wonokromo, menelusuri
jalan di wonokromo, angin yang dingin dan jalan yang mulai sepi kurasakan.
 |
| Perjalanan menuju Stasiun Wonokromo |
Akhirnya kami berhenti
di tepi sungai, lalu mendapat penugasan selanjutnya penugasan kali ini memang
agak berbeda dari sebelumnya kami tidak usah mewawancarai atau merekam obrolan
kami tapi kami harus mengamati dan mendengarkan cerita yang sesungguhnya dari
apa yang selama ini kita lihat, kami diajak ke Stasiun Kereta Api Wonokromo
untuk melihat langsung kegiatan apa saja yang dilakukan disana pada dini hari.
Aku berangkat sekelompok dengan Adjie. Saat kelompokku dipanggil aku mulai
berangkat berdua dengan Adjie. Kami mulai berjalan menelusuri rel kereta api
kulihat banyak laki-laki bergerombol dan juga wanita berpakaian seksi,
sebenarnya kami kemarin tidak terlalu berinteraksi secara langsung dengan
mereka namun hanya mengamati. Tapi aku sudah mengerti dari itu semua dan sadar
dibalik sisi gelap seorang pelacur menyimpan kepedihan dibalik itu semua. Kami
menelusuri tempat itu sampai hamper shubuh, setelah itu dilanjut kami diberi
materi lagi banyak yang didapat banyak cerita dari teman-teman lain, kami
bercerita sampai matahari mulai terbit.
Akhirnya kami
melanjutkan perjalanan dengan naik bemo menuju Pasar Waru Sidoarjo. Disana kami
sempat wawancara beberapa pedagang dan pembeli aku berkelompok dengan Lina.Cerita dari pedagang banyak yang sudah lama berjualan di situ dan mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Saat ditanya penjual sudah puas dengan apa yang didapat saat berjualan di pasar
menurut mereka harga sudah relative stabil, dan untuk pembeli saat mereka ditanyai banyak yang tidak bersedia katanya lagi buru-buru ada yang bilang gak paham maksudnya tapi masih ada pembeli yang ramah dan mau di ajak wawancara.
Terakhir kami berangkat
pulang menuju stasiun bis Bungur disana juga sempat wawancara sopir, kernet,
pengamen dan juga pedagang asongan serta penumpang sedikit cerita yang aku
dapat. Sopir tidak mau saat diwawancarai mereka melemparkan pertanyaan ke teman lainnya Setelah itu kami berangkat pulang. Dan melanjutkan perjalanan menuju
Madura dengan naik bis lalu lalu kembali naik kapal sampai di Sekret sesudah
Dhuhur.
 |
| Terima kasih untuk semua teman-temanku dan ilmu yang diberikan oleh senior di LPM SM |