Rabu, 29 April 2020

Ketika Kuliah Harus di Rumah


Saat ini penyebaran virus Covid-19 telah menjangkit ke seluruh daerah di Indonesia. Semua daerah telah menjadi zona merah, beberapa  telah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), tanggal 28 April 2020, Surabaya telah memberlakukan PSBB selama 14 hari sampai 11 Mei 2020, berdampak pada ditutupnya semua akses mobilitas keluar masuk daerah tersebut, untuk menekan penyebaran virus Covid-19. Mengingat Surabaya menjadi tempat penyebaran terbanyak dengan 392 pasien positif Corona, 1.056 Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan 2.365 Orang Dalam Pengawasan (ODP).
Otomatis akses transportasi ke Madura harus ditutup. Mahasiswa luar Madura pun tidak bisa kembali ke kampus untuk sekarang ini. Dikeluarkanlah Surat Edaran (SE) Rektor Universitas Trunojoyo Madura (UTM) untuk perpanjangan kuliah daring yang awalnya sampai 30 April 2020 menjadi 26 Juni 2020. Hal ini menimbulkan pro kontra dikalangan mahasiswa, apakah dengan menambah perpanjangan kuliah daring ini efektif atau menimbulkan permasalahan lain.
Dilihat dari situasi penyebaran Covid-19 saat ini, tidak memungkinkan untuk kuliah tatap muka seperti biasa, perpanjangan kuliah daring dinilai efektif untuk menekan penyebaran. Dimana dengan kuliah daring tidak perlu ada kontak langsung antara dosen dan mahasiswa, untuk menerapkan social distancing  mengingat begitu mudahnya penyebaran dari virus ini, dengan kuliah daring dapat mengantisipasi penyebaran Covid-19 di lingkungan kampus.
Disisi lain dengan kuliah daring, mahasiswa harus memiliki beberapa fasilitas pendukung untuk dapat mengikuti kelas dari mulai android yang mumpuni atau komputer dan untuk mengakses dibutuhkan kuota internet, namun tidak semua dari mahasiswa memiliki fasilitas itu, sehingga menghambat jalannya kuliah daring.
Beberapa mahasiswa mengeluhkan tidak efektifnya kuliah daring, seperti telat absen karena sinyal yang buruk, tidak dapat mengikuti kuliah sampai akhir karena kuota yang tidak mencukupi, atau tugas yang terlalu banyak, serta tidak memiliki komputer atau android yang memadahi, lalu penjelasan dosen yang kurang bisa dipahami. Mahasiswa yang kurang mampu harus berjuang untuk dapat mengikuti perkuliahan.
Pada kuliah daring persaingan tidak hanya sekedar intelektual dan pemikiran kritis dari mahasiswa, tapi uang untuk mendapatkan kemudahan akses fasilitas dan pembelajaraan. Seperti dalam pengumpulan tugas, mahasiswa yang daerahnya memiliki sinyal buruk atau fasilitas kurang, terkadang harus telat dalam pengumpulan tugas, padahal ketepatan waktu juga menjadi penilaian dalam mengerjakan tugas. Para mahasiswa yang kurang mampu harus rela nilai mereka kalah dengan para mahasiswa yang memiliki akses internet cepat dan fasilitas yang memadahi.
Lalu jadwal kuliah daring yang tidak sesuai dengan jadwal kuliah pada biasanya, menyebabkan mahasiswa harus selalu membawa ponselnya kemanapun dan kapanpun. Padahal di rumah sangat berbeda dengan kita berada di kampus. Di Madura kita berada di Kos atau Asrama Mahasiswa tanpa ada orangtua, sedangkan ketika kita di rumah hidup bersama orangtua, tidak semua orangtua paham dengan kuliah daring, beberapa orangtua  tidak peduli dengan memberikan tugas rumah yang banyak. Tingkat setres dan tenaga yang dikeluarkan lebih banyak ketika kuliah daring, mahasiswa harus bisa membagi waktu kuliah, mengerjakan tugas, jadwal kelas, serta membantu orangtua.
Mengenai bantuan kuota dari pihak kampus UTM, kemarin  pada tanggal 15-22 April 2020 telah dilakukan pendataan rekening dan nomor telepon dari seluruh mahasiswa aktif UTM tahun ajaran 2019/2020, awalnya terjadi kendala ketika beberapa mahasiswa mengeluhkan tidak punya rekening atau tidak bisa mengupload scan buku tabungan karena ini merupakan salah satu syarat. Lalu pihak kampus mengubah persyaratan, jadi mahasiswa hanya perlu mengirimkan nomor telepon aktifnya yang kemudian nanti akan diisi pulsa sebesar Rp 150.000,-.
Memang untuk pengiriman pulsa tersebut memerlukan waktu, sejak ditutupnya pendataan pada tanggal 22 April 2020, sampai sekarang masih belum dikirim pulsa. Hal ini wajar karena pihak kampus harus benar-benar mendata dan mengirimkan pulsa ke setiap nomor masing-masing mahasiswa dengan tepat.
Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa bantuan ini sangat diperlukan oleh mahasiswa, mengingat perpanjangan kuliah daring sampai 26 Juni 2020, mahasiswa harus memiliki kuota yang cukup untuk dapat mengikuti kelas online, serta mengerjakan tugas-tugas.
Untuk kelancaran kuliah daring serta kenyamanan bersama, agar pembelajaran dapat bermanfaat serta tidak menambah beban pikiran dari mahasiswa. Dosen harus mengerti kondisi setiap mahasiswa, dari mulai finansial, hingga keluarga di rumah. Untuk absen, jika memang mahasiswa harus ketinggalan karena koneksi internet yang buruk, mahasiswa harus sigap melaporkan masalah ini ke dosen, kemungkinan dosen akan mengerti serta memberikan dispensasi.
Jadwal haruslah sesuai dengan jadwal sebelum kuliah daring, mengingat aktifitas mahasiswa di rumah tidak hanya kuliah saja, agar mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan dengan semestinya. Tapi pada kenyataannnya dengan kuliah daring dosen dengan mudahnya mengubah jadwal perkuliahan menyesuaikan kebutuhannya, hal ini memang boleh saja dilakukan. Tapi informasi setidaknya diberitahukannya tidak langsung pada hari itu, minimal sehari sebelum perkuliahan, agar semua mahasiswa mengetahui dan dapat mengikuti perkuliahan.
Kuliah daring merupakan salah satu solusi untuk tetap belajar dikala pandemi virus Covid-19 ini, tapi dengan sistem daring ini jangan sampai ada pihak yang termarginalkan dan haknya tidak terpenuhi. Dengan kuliah daring semoga semua pihak dapat menerima manfaatnya, sebagai mahasiswa dapat memperoleh ilmu, di pihak dosen dapat memantau perkembangan akademik mahasiswanya serta menyampaikan pembelajaran dengan baik. Agar dengan adanya pandemi ini mahasiswa tetap dapat produktif serta mengembangkan ilmunya.


Share:

4 komentar: