Saat ini
penyebaran virus Covid-19 telah menjangkit ke seluruh daerah di Indonesia.
Semua daerah telah menjadi zona merah, beberapa telah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar
(PSBB), tanggal 28 April 2020, Surabaya telah memberlakukan PSBB selama 14 hari
sampai 11 Mei 2020, berdampak pada ditutupnya semua akses mobilitas keluar
masuk daerah tersebut, untuk menekan penyebaran virus Covid-19. Mengingat Surabaya
menjadi tempat penyebaran terbanyak dengan 392 pasien positif Corona, 1.056
Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan 2.365 Orang Dalam Pengawasan (ODP).
Otomatis akses
transportasi ke Madura harus ditutup. Mahasiswa luar Madura pun tidak bisa
kembali ke kampus untuk sekarang ini. Dikeluarkanlah Surat Edaran (SE) Rektor
Universitas Trunojoyo Madura (UTM) untuk perpanjangan kuliah daring yang
awalnya sampai 30 April 2020 menjadi 26 Juni 2020. Hal ini menimbulkan pro
kontra dikalangan mahasiswa, apakah dengan menambah perpanjangan kuliah daring
ini efektif atau menimbulkan permasalahan lain.
Dilihat dari
situasi penyebaran Covid-19 saat ini, tidak memungkinkan untuk kuliah tatap
muka seperti biasa, perpanjangan kuliah daring dinilai efektif untuk menekan
penyebaran. Dimana dengan kuliah daring tidak perlu ada kontak langsung antara
dosen dan mahasiswa, untuk menerapkan social
distancing mengingat begitu mudahnya
penyebaran dari virus ini, dengan kuliah daring dapat mengantisipasi penyebaran
Covid-19 di lingkungan kampus.
Disisi lain
dengan kuliah daring, mahasiswa harus memiliki beberapa fasilitas pendukung
untuk dapat mengikuti kelas dari mulai android yang mumpuni atau komputer dan untuk
mengakses dibutuhkan kuota internet, namun tidak semua dari mahasiswa memiliki
fasilitas itu, sehingga menghambat jalannya kuliah daring.
Beberapa mahasiswa
mengeluhkan tidak efektifnya kuliah daring, seperti telat absen karena sinyal
yang buruk, tidak dapat mengikuti kuliah sampai akhir karena kuota yang tidak
mencukupi, atau tugas yang terlalu banyak, serta tidak memiliki komputer atau
android yang memadahi, lalu penjelasan dosen yang kurang bisa dipahami. Mahasiswa
yang kurang mampu harus berjuang untuk dapat mengikuti perkuliahan.
Pada kuliah
daring persaingan tidak hanya sekedar intelektual dan pemikiran kritis dari
mahasiswa, tapi uang untuk mendapatkan kemudahan akses fasilitas dan
pembelajaraan. Seperti dalam pengumpulan tugas, mahasiswa yang daerahnya
memiliki sinyal buruk atau fasilitas kurang, terkadang harus telat dalam
pengumpulan tugas, padahal ketepatan waktu juga menjadi penilaian dalam
mengerjakan tugas. Para mahasiswa yang kurang mampu harus rela nilai mereka
kalah dengan para mahasiswa yang memiliki akses internet cepat dan fasilitas
yang memadahi.
Lalu jadwal
kuliah daring yang tidak sesuai dengan jadwal kuliah pada biasanya, menyebabkan
mahasiswa harus selalu membawa ponselnya kemanapun dan kapanpun. Padahal di
rumah sangat berbeda dengan kita berada di kampus. Di Madura kita berada di Kos
atau Asrama Mahasiswa tanpa ada orangtua, sedangkan ketika kita di rumah hidup
bersama orangtua, tidak semua orangtua paham dengan kuliah daring, beberapa
orangtua tidak peduli dengan memberikan
tugas rumah yang banyak. Tingkat setres dan tenaga yang dikeluarkan lebih
banyak ketika kuliah daring, mahasiswa harus bisa membagi waktu kuliah,
mengerjakan tugas, jadwal kelas, serta membantu orangtua.
Mengenai bantuan
kuota dari pihak kampus UTM, kemarin pada tanggal 15-22 April 2020 telah dilakukan
pendataan rekening dan nomor telepon dari seluruh mahasiswa aktif UTM tahun
ajaran 2019/2020, awalnya terjadi kendala ketika beberapa mahasiswa mengeluhkan
tidak punya rekening atau tidak bisa mengupload scan buku tabungan karena ini
merupakan salah satu syarat. Lalu pihak kampus mengubah persyaratan, jadi
mahasiswa hanya perlu mengirimkan nomor telepon aktifnya yang kemudian nanti
akan diisi pulsa sebesar Rp 150.000,-.
Memang untuk
pengiriman pulsa tersebut memerlukan waktu, sejak ditutupnya pendataan pada
tanggal 22 April 2020, sampai sekarang masih belum dikirim pulsa. Hal ini wajar
karena pihak kampus harus benar-benar mendata dan mengirimkan pulsa ke setiap
nomor masing-masing mahasiswa dengan tepat.
Tapi tidak
bisa dipungkiri bahwa bantuan ini sangat diperlukan oleh mahasiswa, mengingat
perpanjangan kuliah daring sampai 26 Juni 2020, mahasiswa harus memiliki kuota
yang cukup untuk dapat mengikuti kelas online, serta mengerjakan tugas-tugas.
Untuk kelancaran
kuliah daring serta kenyamanan bersama, agar pembelajaran dapat bermanfaat
serta tidak menambah beban pikiran dari mahasiswa. Dosen harus mengerti kondisi
setiap mahasiswa, dari mulai finansial, hingga keluarga di rumah. Untuk absen,
jika memang mahasiswa harus ketinggalan karena koneksi internet yang buruk,
mahasiswa harus sigap melaporkan masalah ini ke dosen, kemungkinan dosen akan
mengerti serta memberikan dispensasi.
Jadwal haruslah
sesuai dengan jadwal sebelum kuliah daring, mengingat aktifitas mahasiswa di
rumah tidak hanya kuliah saja, agar mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan
dengan semestinya. Tapi pada kenyataannnya dengan kuliah daring dosen dengan
mudahnya mengubah jadwal perkuliahan menyesuaikan kebutuhannya, hal ini memang
boleh saja dilakukan. Tapi informasi setidaknya diberitahukannya tidak langsung
pada hari itu, minimal sehari sebelum perkuliahan, agar semua mahasiswa
mengetahui dan dapat mengikuti perkuliahan.
Kuliah daring
merupakan salah satu solusi untuk tetap belajar dikala pandemi virus Covid-19
ini, tapi dengan sistem daring ini jangan sampai ada pihak yang termarginalkan
dan haknya tidak terpenuhi. Dengan kuliah daring semoga semua pihak dapat
menerima manfaatnya, sebagai mahasiswa dapat memperoleh ilmu, di pihak dosen
dapat memantau perkembangan akademik mahasiswanya serta menyampaikan
pembelajaran dengan baik. Agar dengan adanya pandemi ini mahasiswa tetap dapat produktif
serta mengembangkan ilmunya.

Komenn ah
BalasHapusi see
HapusHai Amelia Al Khumayro
BalasHapusHallo 👋
Hapus