Rabu, 11 November 2020

Tumpul ke Atas, Tajam ke Bawah




Judul              : The Trial PROSES

Penulis           : Franz Kafka

Penerjemah    : Sigit Susanto

Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN              : 978-602-03-2895-9

Tebal              : 261

Tahun             : 2016 (Cetakan I)

 

Novel ini berawal langsung ke tema cerita tanpa diberi pengenalan, yaitu diceritakan ketika seorang manajer bank bernama Josef K, didalam novel ini disebut dengan K. K tiba-tIba ditangkap dan diajukan ke pengadilan tanpa menjelaskan alasan kesalahannya ditangkap.

Selanjutnya K harus ke pengadilan. Namun, ketidakjelasan semakin terlihat dari mulai K menuju ke pengadilan, alamat tidak jelas dan setelah sampai di pengadilan respon orang-orang didalamnya aneh mereka bersama tepuk tangan untuk K.

K membuka keburukan petugas yang ada di pengadilan yang menyebabkan mereka mendapat hukuman, petugas tersebut yaitu Franz dan Wilhem diberikan hukuman cambuk karena kesalahannya.

Pengadilan K dalam cerita ini berjalan begitu panjang dan tidak jelas, K pun bosan dengan perkembangan kasusnya yang memang tidak ia ketahui. Pelarian K yaitu ia mengunjungi bar dan bertemu banyak gadis, menjalin dengan empat perempuan yaitu Fraulein Burstner, istri penjaga di pengadilan, Elsa pegawai bar dan Leni.

Di akhir cerita ada cerita pendek dari penulis yang berjudul Di Depan Hukum, cerita ini disampaikan penulis lewat percakapan pendeta dengan K. Dalam cerita memberikan gambaran suatu sistem hukum serta menyindir penerapan hukum saat ini.

Diceritakan ada orang desa yang ingin memasuki pintu yang memiliki penjaga, pintu tersebt merupakan gerbang masuk yang menurut interpetasi saya yaitu suatu hukum yang di idam-idamkan oleh kebanyakan orang yaitu adil, jelas dan tidak berpihak, tentunya ini ditujukan untuk semua orang tanpa memandang apapun.

Namun, dalam kenyataanya dalam cerita pendek tersebut orang desa tidak diberikan akses masuk oleh penjaga, dalam cerita pendek juga disebutkan  bahwa penjaga tidak mengizinkan masuk karena ia telah diperintahkan oleh atasannyayang memiliki lebih tinggi kedudukan dan pengaruhnya, namun disisi lain si penjaga masih memberikan harapan dikemudian hari orang desa tersebut dapat memasukinya tapi tidak jelas entah kapan.

Dari cerita novel ini menggambarkan sistem hukum sekarang, dari cerita K mulai penangkapan dan pengadilannya. Membuat pembaca mengerti bahwa tidak semua orang yang dipenjara atau diadili jelas-jelas memiliki kesalahan, hukum bukanlah suatu produk yang sempurna. Memang terlihat jelas peraturan-peraturan dalam hukum memiliki tujuan yang baik agar semuanya yang ada dalam hidup berjalan sesuai ada sebab akibat.

Pada kenyataannya dalam pelaksanaannya hukum tidak sebaik itu, hal ini dikarenakan oleh orang-orang yang sebagai penegak aturan hukum tidak menjalankan dengan semestinya.

Begitu pula dalam cerita pendek yang ditulis Kafka diakhir cerita yang berjudul didepan hukum, memberikan pembaca suatu kesadaran bahwa hukum memang tumpul ke atas tajam ke bawah, karena orang yang memiliki kedudukan dan pengaruh lebih bisa mengontrol hukum seperti penjaga yang lebih memilih untuk tidak membukakan pintu karena memang ditugaskan oleh atasannya yang lebih memiliki pengaruh.

Orang desa yang memang notabennya orang biasa tidak semudah itu memiliki akses pintu itu yaitu sebuah sistem hukum yang adil, seperti pada kasus-kasus yang ada di Indonesia ketika ada orang mencuri untuk makan serta melanjutkan hidup malah dihukum dan diadili atas tindakan salahnya.

Disisi lain ketika kita melihat kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh petinggi pemerintahan, hukuman yang mereka dapatkan sungguh ringan atau bahkan kebal hukum dibanding kerugian yang ditimbulkan yaitu menghabiskan uang negara dari hasil kerja keras rakyat untuk membayar pajak.

Namun cerita dari penjaga pintu yang masih memberikan harapan suatu hari kelak akan membukakan pintu untuk orang desa, seperti menggambarkan hukum masih memberikan gambaran-gambaran baik untuk diluarnya pencitraan dalam hukum masih ada walaupun pada kenyataannya tidak seindah itu.

Buku ini memang memiliki kerumitan tersendiri, dari mulai pengenalan tema dan penokohan. Cukup lelah untuk menyelesaikan buku ini dengan layout paragraf yang sangat panjang. Namun cerita yang dibawa buku masih relevan untuk dibaca sebagai cermin penerapan hukum di Indonesia.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar