Selasa, 17 November 2020

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Ironi Perkelaminan Manusia

 



Judul Buku                          : Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas

Penulis                                 : Eka Kurniawan

Penerbit                                : PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN                                    : 978-602-03-0393-2

Tebal                                     : 243 halaman

Tahun Terbit                          : 2014

Berawal dari keisengan dua bocah yang baru memasuki usia baliq, yaitu Si Tokek yang mengajak Ajo Kawir melihat rumah seseorang perempuan gila bernama Rona Merah. Dua bocah tersebut awalnya ingin melihat tubuh perempuan tersebut ketika mandi dengan mengintip di salahsatu lubang rumahnya, namun tiba-tiba datang dua polisi menyetubuhi perempuan gila tersebut yang membuat Si Tokek dan Ajo Kawir kaget. Kemudian tiba-tiba Si Tokek terpleset dan jatuh, menyebabkan pengintipan mereka diketahui dua polisi tersebut.

Si Tokek berhasil melarikan diri dan sempat sembunyi, namun Ajo Kawir tertangkap polisi tersebut lalu dimasukkan ke rumah Rona Merah. Ajo Kawir dipaksa melepaskan celananya dan secara paksa oleh kedua polisi itu Ajo Kawir disuruh menyetubuhi Rona Merah, sejak saat itu Ajo Kawir mengalami impoten, dalam buku tersebut disebutkan burungnya tidur dan tak mau bangun.

Selama burungnya tidur Ajo Kawir telah melakukan berbagai cara untuk membangunkannya dari cara masuk akal hingga tidak masuk akal tapi semua hasilnya nihil, burungnya tetap terlelap dan tak mau bangun. Hingga Si Tokek memberikan motivasi dengan mengatakan, jika burungnya pun bangun maka belum tentu akan digunakan untuk perempuan. Perkataan Si Tokek sedikit melegakan Ajo Kawir hingga akhirnya dapat menerima dan berhenti memaksanya bangun.

Dengan kekurangannya itu setiap kesal ia mencoba melampiaskannya dengan berkelahi, dengan siapapun yang apes ketemu Ajo Kawir karena ia selalu mecari gara-gara. Hingga pada suatu ketika ia harus berkelahi dengan perempuan yaitu Iteung. Iteung telah membuat Ajo Kawir jatuh cinta, begitupun Iteung namun Ajo Kawir mencoba menghindar dengan menolak cinta Iteung karena merasa tidak bisa memberikan Iteung kepuasan dalam pernikahan dengan kekurangan burungnya.

Namun ternyata tak disangka Iteung ternyata mau menerima Ajo Kawir dengan kekurangannya lalu menikah, namun pernikahannya tersebut tidak semulus janji Iteung karena ia malah hamil yang jelas bukan anak dari Ajo Kawir.

Cerita dalam novel ini merupakan alegori kehidupan manusia, saya melihat manusia merupakan objek dari berjalannya kehidupan. Manusia tidak mengerti nasibnya dikemudian hari, apa yang mereka inginkan dengan apa yang mereka dapat pun diluar kehendak manusia.

Seperti Ajo Kawir, ia tidak menyangka bahwa hal yang ia anggap nikmat kemudian hilang begitu saja karena burungnya tak mau bangun, ia banyak belajar dari burungnya tentang hidup. Ketika ia sangat memaksa burungnya bangun, dan meluapkan kekesalan dengan hal negatif burungnya tetap tidur tak mau bangun, hingga suatu kejadian yang membuatnya sadar ketika diselingkuhi istrinya kemudian membunuh orang lalu dipenjara.

Dalam pesakitannya di penjara ia belajar tentang ketenangan dan menerima kenyataan, ia sudah ikhlas dengan keadaan burungnya dan berhenti mencari gara-gara dan mulai menjalani hidup sebagai supir truk dengan benar dan mencari ketenangan. Ketika itu bertemu Jelita, Jelita yang saya lihat ialah respresentasi dari nikmat yang diberikan kepada manusia namun disepelekan seperti kesehatan, pikiran tenang, dan hidup aman karena manusia biasanya terlalu fokus terhadap materi seperti harta kekayaan. Jelita memang buruk rupa, namun ia mampu membangunkan burung Ajo Kawir, disaat ia sudah mulai menerima hidup. Dalam kasus Ajo Kawir dan Jelita saya setuju kata-kata, disaat manusia bersyukur maka akan ditambah nikmatnya.

Di dalam buku ini juga memberikan pelajaran terkait perempuan dan laki-laki. Seperti pada saat polisi melakukan pelecehan terhadap Rona Merah, memang Rona Merah gila tapi tidak seharusnya mendapatkan hal tersebut. Ia juga berhak dihargai seperti perempuan pada umumnya. Ini sekaligus memberi tahu kebobrokan kaum laki-laki tanpa peduli dengan siapa jika sudah birahi maka melakukan segala cara untuk melampiaskan tidak peduli dengan seseorang perempuan gila.

Seperti dalam salah satu teks di buku ini yaitu, Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang abnyak bisa dilakukan kepala.

Tentang kasus kebutuhan sex antara perempuan dan laki-laki Eka dalam bukunya ini, penggambarannya seimbang tidak hanya menyudutkan kaum laki-laki. Begitupun perempuan juga memiliki hawa nafsu dan kebutuhan birahi yang harus dipenuhi. Seperti Iteung sebagai istri Ajo Kawir yang tidak bisa memberikan pelayanan dengan maksimal ia melampiaskan itu dengan berselingkuh dan mencari kenikmatan dari laki-laki lain. Tentu ini merusak norma pernikahan sebagai pasangan yang dapat menerima apapun keadaan suaminya, Iteung juga mengingkari janji kepada Ajo Kawir terkait dapat mencintai sepenuhnya walaupun impoten. Tapi malah dirusak dengan kelakuannya sendiri.

Walapun sama-sama mau Iteung juga meliki keegoisan tinggi dan play victim ketika ditinggal Ajo Kawir. Ia tidak memperbaiki kelakuan dan membesarkan anaknya dengan baik malah membunuh selingkuhannya yang menyebabkan ia harus dipenjara dan tidak bisa bersama anaknya.

Kehidupan manusia memang begitu kompleks dengan segala keinginan dan permasalahan yang harus dihadapi, perihal itu juga manusia tidak dapat mengontrol semua yang harus terjadi dalam hidupnya, karena semua kejadian tersebut berjalan dan terjadi begitu saja, manusia hanya bisa memberikan respon entah dalam hal posotif atau negatif dalam menghadapi setiap kejadian baik maupun buruk.

 

Share:

0 komentar:

Posting Komentar