Judul Buku :
Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas
Penulis :
Eka Kurniawan
Penerbit :
PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN :
978-602-03-0393-2
Tebal :
243 halaman
Tahun Terbit :
2014
Berawal dari keisengan dua bocah
yang baru memasuki usia baliq, yaitu Si Tokek yang mengajak Ajo Kawir melihat
rumah seseorang perempuan gila bernama Rona Merah. Dua bocah tersebut awalnya
ingin melihat tubuh perempuan tersebut ketika mandi dengan mengintip di
salahsatu lubang rumahnya, namun tiba-tiba datang dua polisi menyetubuhi
perempuan gila tersebut yang membuat Si Tokek dan Ajo Kawir kaget. Kemudian tiba-tiba
Si Tokek terpleset dan jatuh, menyebabkan pengintipan mereka diketahui dua
polisi tersebut.
Si Tokek berhasil melarikan diri
dan sempat sembunyi, namun Ajo Kawir tertangkap polisi tersebut lalu dimasukkan
ke rumah Rona Merah. Ajo Kawir dipaksa melepaskan celananya dan secara paksa
oleh kedua polisi itu Ajo Kawir disuruh menyetubuhi Rona Merah, sejak saat itu
Ajo Kawir mengalami impoten, dalam buku tersebut disebutkan burungnya tidur dan
tak mau bangun.
Selama burungnya tidur Ajo Kawir
telah melakukan berbagai cara untuk membangunkannya dari cara masuk akal hingga
tidak masuk akal tapi semua hasilnya nihil, burungnya tetap terlelap dan tak
mau bangun. Hingga Si Tokek memberikan motivasi dengan mengatakan, jika
burungnya pun bangun maka belum tentu akan digunakan untuk perempuan. Perkataan
Si Tokek sedikit melegakan Ajo Kawir hingga akhirnya dapat menerima dan
berhenti memaksanya bangun.
Dengan kekurangannya itu setiap
kesal ia mencoba melampiaskannya dengan berkelahi, dengan siapapun yang apes
ketemu Ajo Kawir karena ia selalu mecari gara-gara. Hingga pada suatu ketika ia
harus berkelahi dengan perempuan yaitu Iteung. Iteung telah membuat Ajo Kawir
jatuh cinta, begitupun Iteung namun Ajo Kawir mencoba menghindar dengan menolak
cinta Iteung karena merasa tidak bisa memberikan Iteung kepuasan dalam
pernikahan dengan kekurangan burungnya.
Namun ternyata tak disangka
Iteung ternyata mau menerima Ajo Kawir dengan kekurangannya lalu menikah, namun
pernikahannya tersebut tidak semulus janji Iteung karena ia malah hamil yang
jelas bukan anak dari Ajo Kawir.
Cerita dalam novel ini merupakan
alegori kehidupan manusia, saya melihat manusia merupakan objek dari
berjalannya kehidupan. Manusia tidak mengerti nasibnya dikemudian hari, apa
yang mereka inginkan dengan apa yang mereka dapat pun diluar kehendak manusia.
Seperti Ajo Kawir, ia tidak
menyangka bahwa hal yang ia anggap nikmat kemudian hilang begitu saja karena
burungnya tak mau bangun, ia banyak belajar dari burungnya tentang hidup. Ketika
ia sangat memaksa burungnya bangun, dan meluapkan kekesalan dengan hal negatif
burungnya tetap tidur tak mau bangun, hingga suatu kejadian yang membuatnya
sadar ketika diselingkuhi istrinya kemudian membunuh orang lalu dipenjara.
Dalam pesakitannya di penjara ia
belajar tentang ketenangan dan menerima kenyataan, ia sudah ikhlas dengan
keadaan burungnya dan berhenti mencari gara-gara dan mulai menjalani hidup
sebagai supir truk dengan benar dan mencari ketenangan. Ketika itu bertemu
Jelita, Jelita yang saya lihat ialah respresentasi dari nikmat yang diberikan
kepada manusia namun disepelekan seperti kesehatan, pikiran tenang, dan hidup
aman karena manusia biasanya terlalu fokus terhadap materi seperti harta
kekayaan. Jelita memang buruk rupa, namun ia mampu membangunkan burung Ajo
Kawir, disaat ia sudah mulai menerima hidup. Dalam kasus Ajo Kawir dan Jelita
saya setuju kata-kata, disaat manusia bersyukur maka akan ditambah nikmatnya.
Di dalam buku ini juga memberikan
pelajaran terkait perempuan dan laki-laki. Seperti pada saat polisi melakukan
pelecehan terhadap Rona Merah, memang Rona Merah gila tapi tidak seharusnya
mendapatkan hal tersebut. Ia juga berhak dihargai seperti perempuan pada
umumnya. Ini sekaligus memberi tahu kebobrokan kaum laki-laki tanpa peduli
dengan siapa jika sudah birahi maka melakukan segala cara untuk melampiaskan
tidak peduli dengan seseorang perempuan gila.
Seperti dalam salah satu teks di
buku ini yaitu, Kemaluan bisa
menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua manusia,
seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang abnyak bisa dilakukan
kepala.
Tentang kasus kebutuhan sex antara perempuan dan laki-laki Eka
dalam bukunya ini, penggambarannya seimbang tidak hanya menyudutkan kaum
laki-laki. Begitupun perempuan juga memiliki hawa nafsu dan kebutuhan birahi
yang harus dipenuhi. Seperti Iteung sebagai istri Ajo Kawir yang tidak bisa
memberikan pelayanan dengan maksimal ia melampiaskan itu dengan berselingkuh
dan mencari kenikmatan dari laki-laki lain. Tentu ini merusak norma pernikahan
sebagai pasangan yang dapat menerima apapun keadaan suaminya, Iteung juga
mengingkari janji kepada Ajo Kawir terkait dapat mencintai sepenuhnya walaupun
impoten. Tapi malah dirusak dengan kelakuannya sendiri.
Walapun sama-sama mau Iteung juga
meliki keegoisan tinggi dan play victim ketika
ditinggal Ajo Kawir. Ia tidak memperbaiki kelakuan dan membesarkan anaknya
dengan baik malah membunuh selingkuhannya yang menyebabkan ia harus dipenjara
dan tidak bisa bersama anaknya.
Kehidupan manusia memang begitu
kompleks dengan segala keinginan dan permasalahan yang harus dihadapi, perihal
itu juga manusia tidak dapat mengontrol semua yang harus terjadi dalam
hidupnya, karena semua kejadian tersebut berjalan dan terjadi begitu saja,
manusia hanya bisa memberikan respon entah dalam hal posotif atau negatif dalam
menghadapi setiap kejadian baik maupun buruk.

0 komentar:
Posting Komentar