Selasa, 22 Desember 2020

Sulitnya Mencari Sosok Ove pada Laki-laki Milenial


Judul: A Man Called Ove

Penulis: Fredrik Backman

Halaman: 440

Penerbit: Noura Books

Cetakan: 1, 2016

ISBN: 978-602-385-0235

“Orang dinilai dari yang mereka lakukan. Bukan dari yang mereka katakan.”- halaman 105

Laki-laki dingin tidak banyak bicara yang kehilangan ibunya diwaktu kecil kemudian disusul dengan ayahnya yang meninggal tertabrak kereta api, kehidupan laki-laki tersebut menjadi kosong karena orang yang disayangi meninggalkannya, ia hanya ditinggali ayahnya rumah sepetak, mobil saab, dan arloji.

Laki-laki tersebut adalah Ove, dia banyak belajar dengan ayahnya yang selalu melakukan kebaikan dan tindakan yang menguntungkan banyak orang. Ove adalah laki-laki yang telah kehilangan semuanya, bahkan rumahnya terbakar karena digusur.

Ove menjadi laki-laki yang tidak punya tujuan, naik kereta entah akan pergi kemana. Ketika Ove tertidur dalam kereta ia terbangun melihat sosok wanita cantik yang bernama Sonja, ia langsung tersenyum kepada Ove dengan senyum manisnya. Ketika harus bayar karcis Ove tidak memiliki uang, Sonja lalu meminjami uang kepada Ove. Ove berjanji akan mengembalikan uang tersebut.

Setiap hari ia menunggu dan mencari Sonja di kereta namun belum bertemu, hingga tiga bulan kemudian ia bertemu dengan Sonja di kereta. Ove mengembalikan uang yang telah ia pinjam, lalu Sonja mengajak Ove untuk makan malam. Mereka makan malam bersama, berakhir dengan ciuman mesra dari Sonja, dan mereka berdua kemudian berkencan.

Ove banyak berusaha, ia telah menyelesaikan studinya untuk menjadi insinyur. Lalu melamar Sonja, kemudian menikah. Semenjak kedatangan Sonja hidup Ove yang tidak ada tujuan menjadi berwarna. Sonja mengisi hari-hari Ove dengan kebahagiaan setiap harinya.

“Orang mengatakan Ove melihat dunia dalam warna hitam putih. Namun, perempuan itu berwarna-warni. Seluruh warna yang dimiliki Ove.” – halaman 62.

Ove begitu mencintai istrinya, kemudian mereka merencanakan liburan ke Spanyol, liburan tersebut sangat bahagia namun harus berakhir dengan kecelakaan pada saat pulang. Ove harus kehilangan calon anaknya bersama Sonja, dan istrinya menjadi cacat permanen tidak dapat berjalan.

Sonja melanjutkan studinya untuk menjadi guru, namun setelah lulus ia sulit memperoleh pekerjaan, karena cacat. Ove berusaha agar istrinya menjadi guru dengan menulis surat untuk pemerintah, hingga akhirnya Sonja menjadi guru. Ove membangun fasilitas sendiri untuk istrinya agar mudah dalam menjalankan pekerjaannya.

Dimasa tuanya, Sonja meninggalkan Ove terlebih dahulu karena sakit kanker. Kehidupan Ove menjadi tak terarah, tujuan hidupnya telah hilang. Sonja merupakan warna Ove, ia harus kehilangan warnanya. Ove menjadi tua yang menyebalkan, selalu bertengkar dengan tetangga, dan meledak-ledak ketika melihat sesuatu yang tidak benar menurutnya.

Semua orang membenci Ove, namun tidak dengan tetangga barunya seorang pasangan yang memiliki dua anak, dan perempuannya juga sedang hamil. Percobaan bunuh diri Ove, banyak digagalkan oleh tetangganya tersebut, Ove sangat kesal dan tidak menaruh perhatian pada tetangganya. Namun, dengan kecuekan dan kesinisan Ove kepada tetangganya, Ove tetap mau membantu ketika tetangganya tersebut meminta bantuan kepadanya.

Ove seseorang yang banyak tidak disukai orang sekitar, karena kebanyakan orang yang melihat Ove hanya pada satu sisi Ove, ia hanyalah laki-laki yang kehilangan semua yang berharga dari dirinya, apa yang menjadi alasannya untuk tetap hidup dan terus berjuang telah meninggalkannya, maka ia menjadi seseorang yang sensitif dan tempramental.

Bagaimana Ove adalah gambaran orang dengan dua sisi, ia begitu lembut dan penuh kasih sayang di depan istrinya, dan begitu dingin di depan orang lain. Pada kenyataannya Ove bukanlah laki-laki yang apatis, Ove hanya tidak bisa mengungkapkan kasih sayangnya kepada orang lain, istrinya lah yang mengerti bahwa suaminya tersebut begitu penuh dengan cinta.

Kisah hidup Ove banyak memberikan pelajaran terkait dedikasi sebuah cinta, ia begitu mencintai istrinya memberikan semuanya untuk orang yang ia sayangi, Ove adalah seseorang yang hidup untuk orang lain, bukan seperti gambaran orang lain terhadapnya yaitu menyebalkan dan tempramental.

Ove seseorang yang tulus namun harus dihadapkan pada kenyataan hidup yang selalu menyakitkan, ia dapat bangkit dari semua masalah hidupnya karena berjuang untuk orang yang ia cintai. Tentu sangat berbeda dengan cinta yang digembor-gemborkan pemuda-pemudi zaman sekarang, yang menggunakan cinta hanya sekedar ucapan semata.

Karena prinsip hidup Ove, perkataan tidak penting dan yang terpenting adalah perbuatan. Berbanding terbalik dengan laki-laki sekarang yang banyak berkata, minim pembuktian. Terlihat dari banyaknya kasus-kasus mengenai hubungan remaja yang berakhir dengan seks bebas dan lari dari tanggung jawab.

Dulu cinta adalah sebuah rasa sayang terhadap orang lain, dan digunakan untuk saling membahagiakan memberikan sesuatu tidak hanya sekedar fisik, namun persatuan antar jiwa manusia. Cinta adalah sesuatu yang sakral tidak mudah untuk diucapkan untuk sembarang orang, diucapkan oleh seseorang yang menaruh hati begitu dalam dan berniat untuk berjanji membahagiakan seumur hidup.

 

Share:

Jumat, 18 Desember 2020

Politik Uang Masih Eksis Saat Pemilu

Pemilu serentak telah dilaksanakan dibeberapa daerah, namun praktik uang untuk memperoleh banyak suara masih banyak ditemuhi. Menurut laporan dari berita kompas ada 136 dugaan tindak pidana pemilu yang ditangani oleh Sentra Penegakan Hukum Terpadu. Tertinggi adalah politik uang dengan 104 kasus.

Praktik ini diperparah karena kampanye pada situasi pandemi Covid-19, para paslon tidak dapat mengumpulkan pendukungnya untuk melakukan kampanye dan memperoleh suara dengan bertemu, maka dengan uang adalah cara praktis dan mudah dalam menggaet pemilih.

Masyarakat yang belum sejahtera merupakan sasaran yang pas, untuk diberikan uang agar dapat merubah pilihannya.

Lalu tidak bisa dipungkiri masyarakat saat ini juga membutuhkan uang karena memang kondisi ekonomi yang sulit saat pandemi, momen pemilu juga menjadi alternatif memperoleh sedikit uang setidaknya untuk membeli makan satu hari. Kondisi itu dimanfaatkan oleh pihak-pihak untuk mempengaruhi pilihan dari calon pemilih.

Dalam politik uang ini juga memiliki dampak buruk, yaitu membuat masyarakat menjadi terbiasa bahwa pilkada adalah ajang untuk saling memberi uang oleh calon, membangun mindset bahwa yang memberi lebih banyak itulah patokan untuk dipilih banyak masyarakat. Jika diawal sudah menggunakan uang tidak bisa dipungkiri selanjutnya menimbulkan korupsi-korupsi baru jika sudah masuk dalam pemerintahan.

Dengan politik uang menghasilkan pemimpin-pemimpin yang tidak berkualitas. Tentunya jika pemilu saja sudah menggunakan uang, maka saat dalam pemerintahan para pemimpin ini jelas korupsi dengan jumlah yang lebih besar untuk menutupi dananya saat pemilu tadi, tidak heran kasus kaus korupsi di Indonesia masih sangat tinggi sampai sekarang.

Praktik politik uang yang ada di Indonesia tentu mencederai asas demokrasi, rakyat sebagai penentu sebuah keputusan negara dengan melalui pilihan vote terbanyak, dengan adanya politik uang maka pilihan dari rakyat bukan murni dari mereka sendiri namun karena iming-iming uang yang akan diberikan untuk memilih calonya.

Di tempat saya sendiri, tidak bisa dipungkiri bahwa dengan politik uang meningkatkan jumlah angka pemilih, jika tanpa uang maka masyarakat sini malam untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Karena dirasa tidak ada untungnya sama sekali, padahal pada kenyataannya pilihan terbanyak dari rakyat  merupakan kunci majunya suatu wilayah, dengan pemimpin yang tepat dapat membangun sebuah daerah dengan baik begitupun sebaliknya.

Apakah politik uang sendiri dapat dihentikan? Cara menghentikannya yaitu dengan mengedukasi para masyarakat akan politik dan pemilu, memberikann inforasi bahwa pemilu merupakan cara masyarakat memulai perubahan dalam daerahnya, oleh karena itu diharapkan semua masyarakat dapat berpartisipasi dan mengawasi jalannya pemilu agar terhindar dari kecurangan.

Masyarakat yang belum sejahtera jelas akan senang dengan adanya politik uang, karena mereka mendapatkan uang ketika pemilu. Tentu golongan masyarakat ini harus diluruskan pemikirannya, bahwa uang tersebut cukup kecil tidak sebanding jika para koruptor menjabat dalam pemerintahan. Memberitahu efek dan dampak dari politik uang, salah satunya yaitu sifat serakah untuk mengembalikan uang kampanye, tentunya hal tersebut merubah fokus dari pemimpin yang sesungguhnya yitu membangun suatu daerah.

Jika pembangunan terganggu, tentunya berefek dalam kesejahteraan masyarakat tersebut, jadi politik uang merupakan salah satu cara agar keluar dari ketidaksejahteraan masyarakat dalam suatu daerah.

Selain itu diperlukan regulasi yang jelas terkait kasus praktik politik uang ini, karena biasanya dalam kasus yang ditangkap hanya pelaku lapangannya saja, padahal jika diselidiki tentunya dalang pelakunya adalah yang paling diuntungkan dalam praktik tersebut, namun dalam catatan belum pernah ada yang ditangkap.

 

Share:

Selasa, 15 Desember 2020

Kompleksitas Kehidupan Manusia dalam Novel Entrok

 



Judul : Entrok

Penulis : Okky Madasari

Ilustrasi dan Sampul : Restu Ratnaningtyas

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : April, 2010

Tebal : 288 halaman

ISBN : 978-979-22-5589

Marni dan Rahayu adalah ibu dan anak  yang lahir dibesarkan dengan latar belakang dan ajaran berbeda. Marni seorang perempuan jawa pada zaman dahulu dengan kepercayaan kepada leluhur hidup miskin, tidak bersekolah dengan harapan hanya memperoleh sesuap nasi setiap hari. Ketika pubertas Marni ingin memiliki bra (entrok), sesuatu barang yang sangat berharga pada saat itu dengan keadaan kekurangan Marni. Dengan keinginannya memiliki Entrok tersebut mengantarkannya pada sebuah perjuangan memperoleh uang, namun pada saat itu perempuan yang bekerja semestinya hanya dibayar dengan bahan makanan, Marni harus menembus ilok gak ilok norma yang berlaku pada saat itu, yaitu bekerja seperti laki-laki menjadi kuli untuk mendapatkan uang.

Manjadi kuli memang yang dibutuhkan hanya tenaga, Marni memutar otak dengan menggunakan uang yang dikumpulkan dari nguli untuk berdagang kecil-kecilan hingga menjadi kaya dengan usahanya. Disisi lain anaknya Rahayu, hidup dengan nyaman hasil kerja orangtuanya dapat bersekolah dengan keprcayaan terhadap Tuhan. Rahayu tumbuh dengan kebencian bahwa ibunya musyrik dan berdosa. Anak dan ibu ini sulit bertemu titik tengah dari ajaran masing-masing yang mereka percayahi, karena diantara keduanya sama-sama merasa benar.

Rahayu disekolahkan ibunya dengan harapan hidupnya akan lebih baik dan menjadi anak pintar, serta dihargai masyarakat. Namun apa yang dilakukan Rahayu dengan kepercayaannya mengantarkannya pada sebuah lingkaran pertemanan yang membuatnya harus berakhir dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang bercap Parta Komunis Indonesia (PKI).

Rahayu yang memiliki agama tidak serta merta dapat menerima perbedaan kepercayaan orang lain yaitu ibunya sendiri. Ia tumbuh sebagai seorang yang religius dengan sikap judgemental terhadap oarang lain, mengkafirkan orang yang tidak sefaham kepercayaan dengannya. Sekolah yang ia jalani memberikan ajaran-ajaran akademis yang membuatnya cerdas, namun tidak diimbangi dengan ajaran untuk memanusiakan orang lain, Rahayu tidak dapat membedakan urusan etika, norma, kemanusiaan dengan berdasar hanya pada dosa yang ia percayai. Terbukti ia lebih memilih durhaka terhadap ibunya karena tak sepaham, namun tidak masalah menikah dengan suami orang.

Pada saat ini juga masih banyak ditemuhi orang-orang yang religius dapat dengan mudah menghakimi orang lain dengan pandangan yang tidak sepaham dengannya, masih ada berita-berita yang menginformasikan kasus-kasus intoleran antar umat beragama. Begitu pula pada dunia pendidikan, lulusan berlomba-lomba menjadi seseorang yang sukses dalam bekerja dengan korporasi, sulit menemukan lulusan yang ingin kembali kepada asalnya dengan melakukan pekerjaan di desa membangun masyarakat.

Novel ini juga mengangkat isu patriarki dan feminisme, jika membaca praktik patriarki pada akhir-akhir ini yang ada adalah dimana wanita tidak diberikan kesempatan untuk memperoleh kesempatan bekerja meraih impian karena larangan suaminya dan tuntutan keluarga. Marni dan Teja adalah gambarn praktik patriarki pada zaman dahulu, dimana perempuan diciptakan untuk memuaskan kebutuhan laki-laki baik lahir dan batin. Teja adalah laki-laki yang pekerjaannya nunut Marni, ia hanya mengantar istrinya bekerja, akan tidak bekerja ketika Marni juga tidak bekerja.

Dengan keadaan Teja seperti itu, ia masih ingin berselingkuh dengan perempuan lain sampai memiliki anak. Kenyataan dari kelakukan Teja tersebut tidak menyebabkan masyarakat menyalahkan laki-laki, namun tetap perempuan menjadi seseorang yang selalu salah dengan tameng " perempuan tidak dapat menjaga penampilan, tidak bisa merawat diri karena kalah cantik dengan selingkuhan suaminya."

Dalam novel ini juga memuat sejarah pada zaman orde baru, saat itu PKI merupakan nama yang mengerikan. Dengan sebutan PKI siapapun dapat diancam, ditangkap, dan dibunuh tanpa pembuktian dan mempertimbangkan Hak Asasi Manusi (HAM). Pemerintah orde baru merupakan pemegang kendali berjalannya kehidupan Indonesia, mereka dapat leluasa mengguankan dan mengekploitasi rakyat Indonesia, dengan ancaman akan dicap sebagai PKI jika tidak sejalan dengan pemerintah.

Sampai saat ini masih terlihat bagaimana orang dengan kuasa atas nama negara dapat menggunakan itu sebagai alat untuk semenah-menah dengan orang biasa, contohnya seperti ketika ada penilangan jika oknum polisi akan dengan mudah membebaskan kembali pengendara dengan adanya uang.

Pada kenyataannya dalam lingkaran masyarakat orang yang memiliki kekuasaan, wewenang, dan pendidikan akan dilihat lebih terhormat dibanding dengan orang yang tak berpendidikan walau secara finansial mapan serta tidak mengganggu orang lain, pandangan seperti ini mungkin dibangun sejak dulu dimana pekerja negara merupakan sosok yang dapat mengatur masyarakat dan dianggap kaum priyayi yang dihormati.

Cerita dalam novel ini memang begitu kompleks, banyak isu yang ingin disampaikan dimulai dengan isu feminis dan patriarki pada zaman dahulu, lalu isu pemerintahan era orde baru, isu kepercayaan dan tak lupa kehidupan dan pola pikir masyarakat setempat yang masih kolot. Novel ini memiliki kelebihan mudah dipahami dengan bahasa mengalir dan ringan. Namun jika dilihat hanya dengan sampulnya lalu tidak membaca keseluruhan novel, mungkin menimbulkan multi tafsir dari orang yang melihat hanya dari sampul, oleh karena itu perlu membaca keseluruhan buku agar mengerti maksud dari novel tersebut.

 

 

Share: