Selasa, 15 Desember 2020

Kompleksitas Kehidupan Manusia dalam Novel Entrok

 



Judul : Entrok

Penulis : Okky Madasari

Ilustrasi dan Sampul : Restu Ratnaningtyas

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : April, 2010

Tebal : 288 halaman

ISBN : 978-979-22-5589

Marni dan Rahayu adalah ibu dan anak  yang lahir dibesarkan dengan latar belakang dan ajaran berbeda. Marni seorang perempuan jawa pada zaman dahulu dengan kepercayaan kepada leluhur hidup miskin, tidak bersekolah dengan harapan hanya memperoleh sesuap nasi setiap hari. Ketika pubertas Marni ingin memiliki bra (entrok), sesuatu barang yang sangat berharga pada saat itu dengan keadaan kekurangan Marni. Dengan keinginannya memiliki Entrok tersebut mengantarkannya pada sebuah perjuangan memperoleh uang, namun pada saat itu perempuan yang bekerja semestinya hanya dibayar dengan bahan makanan, Marni harus menembus ilok gak ilok norma yang berlaku pada saat itu, yaitu bekerja seperti laki-laki menjadi kuli untuk mendapatkan uang.

Manjadi kuli memang yang dibutuhkan hanya tenaga, Marni memutar otak dengan menggunakan uang yang dikumpulkan dari nguli untuk berdagang kecil-kecilan hingga menjadi kaya dengan usahanya. Disisi lain anaknya Rahayu, hidup dengan nyaman hasil kerja orangtuanya dapat bersekolah dengan keprcayaan terhadap Tuhan. Rahayu tumbuh dengan kebencian bahwa ibunya musyrik dan berdosa. Anak dan ibu ini sulit bertemu titik tengah dari ajaran masing-masing yang mereka percayahi, karena diantara keduanya sama-sama merasa benar.

Rahayu disekolahkan ibunya dengan harapan hidupnya akan lebih baik dan menjadi anak pintar, serta dihargai masyarakat. Namun apa yang dilakukan Rahayu dengan kepercayaannya mengantarkannya pada sebuah lingkaran pertemanan yang membuatnya harus berakhir dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang bercap Parta Komunis Indonesia (PKI).

Rahayu yang memiliki agama tidak serta merta dapat menerima perbedaan kepercayaan orang lain yaitu ibunya sendiri. Ia tumbuh sebagai seorang yang religius dengan sikap judgemental terhadap oarang lain, mengkafirkan orang yang tidak sefaham kepercayaan dengannya. Sekolah yang ia jalani memberikan ajaran-ajaran akademis yang membuatnya cerdas, namun tidak diimbangi dengan ajaran untuk memanusiakan orang lain, Rahayu tidak dapat membedakan urusan etika, norma, kemanusiaan dengan berdasar hanya pada dosa yang ia percayai. Terbukti ia lebih memilih durhaka terhadap ibunya karena tak sepaham, namun tidak masalah menikah dengan suami orang.

Pada saat ini juga masih banyak ditemuhi orang-orang yang religius dapat dengan mudah menghakimi orang lain dengan pandangan yang tidak sepaham dengannya, masih ada berita-berita yang menginformasikan kasus-kasus intoleran antar umat beragama. Begitu pula pada dunia pendidikan, lulusan berlomba-lomba menjadi seseorang yang sukses dalam bekerja dengan korporasi, sulit menemukan lulusan yang ingin kembali kepada asalnya dengan melakukan pekerjaan di desa membangun masyarakat.

Novel ini juga mengangkat isu patriarki dan feminisme, jika membaca praktik patriarki pada akhir-akhir ini yang ada adalah dimana wanita tidak diberikan kesempatan untuk memperoleh kesempatan bekerja meraih impian karena larangan suaminya dan tuntutan keluarga. Marni dan Teja adalah gambarn praktik patriarki pada zaman dahulu, dimana perempuan diciptakan untuk memuaskan kebutuhan laki-laki baik lahir dan batin. Teja adalah laki-laki yang pekerjaannya nunut Marni, ia hanya mengantar istrinya bekerja, akan tidak bekerja ketika Marni juga tidak bekerja.

Dengan keadaan Teja seperti itu, ia masih ingin berselingkuh dengan perempuan lain sampai memiliki anak. Kenyataan dari kelakukan Teja tersebut tidak menyebabkan masyarakat menyalahkan laki-laki, namun tetap perempuan menjadi seseorang yang selalu salah dengan tameng " perempuan tidak dapat menjaga penampilan, tidak bisa merawat diri karena kalah cantik dengan selingkuhan suaminya."

Dalam novel ini juga memuat sejarah pada zaman orde baru, saat itu PKI merupakan nama yang mengerikan. Dengan sebutan PKI siapapun dapat diancam, ditangkap, dan dibunuh tanpa pembuktian dan mempertimbangkan Hak Asasi Manusi (HAM). Pemerintah orde baru merupakan pemegang kendali berjalannya kehidupan Indonesia, mereka dapat leluasa mengguankan dan mengekploitasi rakyat Indonesia, dengan ancaman akan dicap sebagai PKI jika tidak sejalan dengan pemerintah.

Sampai saat ini masih terlihat bagaimana orang dengan kuasa atas nama negara dapat menggunakan itu sebagai alat untuk semenah-menah dengan orang biasa, contohnya seperti ketika ada penilangan jika oknum polisi akan dengan mudah membebaskan kembali pengendara dengan adanya uang.

Pada kenyataannya dalam lingkaran masyarakat orang yang memiliki kekuasaan, wewenang, dan pendidikan akan dilihat lebih terhormat dibanding dengan orang yang tak berpendidikan walau secara finansial mapan serta tidak mengganggu orang lain, pandangan seperti ini mungkin dibangun sejak dulu dimana pekerja negara merupakan sosok yang dapat mengatur masyarakat dan dianggap kaum priyayi yang dihormati.

Cerita dalam novel ini memang begitu kompleks, banyak isu yang ingin disampaikan dimulai dengan isu feminis dan patriarki pada zaman dahulu, lalu isu pemerintahan era orde baru, isu kepercayaan dan tak lupa kehidupan dan pola pikir masyarakat setempat yang masih kolot. Novel ini memiliki kelebihan mudah dipahami dengan bahasa mengalir dan ringan. Namun jika dilihat hanya dengan sampulnya lalu tidak membaca keseluruhan novel, mungkin menimbulkan multi tafsir dari orang yang melihat hanya dari sampul, oleh karena itu perlu membaca keseluruhan buku agar mengerti maksud dari novel tersebut.

 

 

Share:

0 komentar:

Posting Komentar