Pelayanan kesehatan yang memadahi
merupakan kewajiban yang harus didapat setiap warga negara Indonesia. Semua
masyarakat baik dengan perekonomian kebawah dan keatas berhak atas itu, selain
itu juga masyarakat kota hingga daerah terpencilpun juga memiliki hak atas
akses kesehatan yang berkualitan, karena sama-sama warga negara Indonesia.
Program kesehatan yang terlihat
ketimpangan yaitu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Kartu Indonesia Sehat, dilihat
dari survei Komnas Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dengan 1.200 responden. Dalam
survei tersebut menghasilkan 72,4 persen responden menyatakan mudah mencapai
fasilitas kesehatan dari program JKN. Disisi lain, masih ada 19,8 persen
responden yang mengaku masih kesulitan mencapai fasilitas kesehatan. Kesulitan makin
tinggi pada wlayah Indonesia bagian timur
Tentu saja hal ini harus
diperhatikan oleh pemerintah, agar dapat memeratakan akses kesehatan bagi warga
Indonesia dimanapun berada. Kesehatan yang baik dibutuhkan semua orang, jika
fasilitas kesehatan tidak merata maka menurunkan produktifitas daerah tersebut.
Bayangkan jika harus ada orang di daerah bagian timur meninggal begitu saja
sebelum perawatan. Selain itu, pelayanan kesehatan yang baik juga meningkatkan
kesehatan ibu dan anak ketika proses melahirkan, tentu saja dapat membentuk
Sumber Daya Manusia (SDM) yang lebih baik.
Masyarakat Indonesia bagian timur
juga meresahkan ketidakpastian adanya tenaga kesehatan, baik dari dokter,
perawat, dan bidan. Terhitung ada 43.8 persen tidak menentu dan 31,3 persen selalu
ada tenaga kesehatan.
Selain fasilitas yang baik,
tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan warga. Mereka ini
yang memiliki ilmu dan pengalaman sangat dibutuhkan untuk dapat mengobati dan
menyembuhkan orang dengan tepat. Hasil survei ini dapat dijadikan evaluasi
pemerintah untuk menambah tenaga kesehatan, terutama yang mau ditempatkan di
Indonesia bagian manapun.
Salah satu cara pemerintah untuk
menambah tenaga kesehatan yaitu, dengan mempermudah semua masyarakat yang
memiliki kecerdasan dan rasa ingin belajar tentang kesehatan. Tidak bisa
dipungkiri biaya pendidikan dokter tidak murah. Pemerintah bisa membantu anak
berprestasi untuk memperoleh pendidikan dokter dari ekonomi rendah. Selain itu
memberikan tunjangan yang lebih kepada tenaga kesehatan lain seperti perawat
dan bidan.
Tidak cukup hanya itu,
ketersediaan obat serta alat kesehatan juga harus ditingkatkan agar saling
melengkapi. Mengingat semua masyarakat juga memiliki kewajiban membayar iuran
sama besar, tentu fasilitas kesehatan yang berkualitas wajib dirasakan semua
masyarakat.
Perbedaan beban pungutan masih
terjadi, terlihat dari survei setidaknya 34,4 persen responden di wilayah
Indonesia timur terkena biaya pungutan ketika mengakses JKN-KIS. Lalu sebanyak
55,8 persen responden menyatakan fasilitas yang bekerja sama dengan Badan
Penyelenggara Jaminan Nasional (BPJS) Kesehatan masih terbatas, hal itu
dikarenakan prosedur pendaftaran dan pembayaran iuran yang masih sulit.
Prinsip jaminan kesehatan yang
dijalankan pemerintah ini, yang berupa asuransi kesehatan diharapkan dapat
membantu semua kalangan masyarakat agar mendapat fasilitas kesehatan yang sama.
Karena semuanya membayar iuran setiap bulan baik sehat maupun sakit, tentu
dengan iuran tersebut semua masyarakat harus mendapat fasilitas kesehatan yang
baik ketika sakit karena mereka juga memerlukan usaha dalam pembayarannya.
Pemerintah perlu membangun rumah
sakit di daerah-daerah terpencil karena tidak bisa dengan mengharapkan rumah
sakit swasta akan membangun rumah sakit di daerah terisolir karena berorientasi
pada bisnis, ini merupakan kesadaran pemerintah sendiri, untuk membantu
warganya.
Jika telah dibangun rumah sakit,
pelayanan dari tenaga medis pun juga harus ditingkatkan. Dari cara memperlakukan
pasien, hingga penanganannya. Masih banyak berita penolakan dari rumah sakit
karena tidak memiliki biaya, ataupun sulitnya mengakses BPJS. Jangan sampai ada
lagi berita-berita terkait penelantaran pasien oleh rumah sakit. Karena sakit
sudah susah lalu ditambah aksek kesehatan yang rumit.
Pemerintah harus sadar akan
luasnya negara Indonesia yang berbentuk banyak kepualauan, setidaknya
ditingkatkan aksen penyaluran informasi agar informasi terkait kesehatan lebih
cepat dan segera ditangani. Memanfaatkan teknologi dengan maksimal, dangan
mengusahakan penggunaan teknologi di Indonesia dapat menjadi penunjang
pelayanan kesehatan. Didalam teknologi, seperti internet kita semua dapat
mengakses wawasan terkait kesehatan dengan mudah. Disini peran pemerintah yaitu
meningkatkan kualitas jaringan untuk semua daerah.
Populasi di Indonesia merupakan 4
terbesar di dunia, disayangkan jika pelayanan dan kesadaran kesehatan rendah. Salah
satu masalah dari populasi ini yaitu kasus stunting di Indonesia masih tinggi. Bedasarkan
data riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2019, angka stunting di Indonesia
mencapai 30,8 persen. Sementara target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka
stunting tidak boleh lebih dari 20 persen.
Jika kesadaran masyarakat tinggi
akan informasi kesehatan serta pelayaanan kesehatan ditingkatkan maka hal itu
tentu dapat menurunkan angka stunting. Percuma saja dengan banyak populasi tapi
tidak diimbangi dengan tingginya kualitas SDM. Stunting sendiri berasal dari
polah asuh dan pemberian gizi.
Karena tidak bisa dipungkiri
pemerintah masih belum detail dalam melihat kebutuhan masyarakat sampai dengan
kualitas gizi mereka. Padahal dampak stunting sendiri yaitu menyebabkan,
rendahnya kecerdasan anak dibawah rata-rata, sistem imun tubuh yang tidak
baiuk, dan anak beresiko tinggi menderita penyakit diabetes.
Stunting menyebabkan banyak
masalah kesehatan, jika dari awal pemerintah memperhatikan ini maka bisa dipastikan
kesehatan masyarakat Indonesia lebih berkualitas.
0 komentar:
Posting Komentar