Rabu, 25 November 2020

Dari Ngalian ke Sendowo

 



Judul Buku : Dari Ngalian ke Sendowo

Penulis : Nh. Dini

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun : 2015

Tebal : 268 halaman

ISBN : 978-602-03-1651-2

Buku ini bercerita tentang perjalanan penulis dimasa tuanya yaitu  Nurhayati Sri Hardini atau biasa disebut dengan Nh Dini, ia merupakan penulis yang masih aktif berkarya diusia senjanya. Dengan kemandiriannya ia berangkat dari satu tempat ke tempat lain untuk mendatangi undangan.

Buku ini berjudul Dari Ngalian ke Sendowo, karena menceritakan proses hijrah Nh Dini, dari rumahnya di Ngalian Semarang sampai ke Sendowo Yogyakarta, tepatnya di wisma berisi lansia atau biasa disebut panti jompo.

Di usia senjanya Nh Dini masih aktif menulis dan membagi ilmunya untuk banyak orang, ia telah mendapat banyak penghargaan atas karya-karyanya. Diundang mengambil penghargaan baik di dalam maupun luar negeri, meski diawal ia memiliki idealis tidak mau datang namun akhirnya runtuh juga. ia akhirnya mau menghadiri perayaan-perayaan penghargaan untuk dirinya tersebut.

Nh Dini tinggal seorang diri di rumahnya Ngalian Semarang memiliki pondok baca dan aktif dalam Rotary Club. Di rumahnya ia tinggal bersama oembantu dan anak-anak asuhnya di pondok baca untuk membantu keperluan Nh Dini, dan juga membantu merawat pondok baca.

Di usia tuanya ia masih harus mencari uang untuk bertahan hidup dan mengurus kelanjutan pondok bacanya, karena faktor usia ia sering mengalami kelemahan fisik dan sakit. Namun karena memang Nh Dini seorang penulis terkenal ia dapat bantuan dari beberapa rekan dan sanak saudaranya, beberapa kali ia beruntung mendapat bantuan tersebut karena memang ia mengaku juka kesulitan dalam hal ekonomi.

Hingga pada suatu ketika ia telah merasa lelah dengan rumahnya yang besar, dan perlu perbaikan berkala setiap tahun, ditambah biaya pembantu-pembantunya. Maka ia memutuskan untuk menjual rumahnya dan pindah ke wisma yang berisi lansia atau disebut panti jompo.

Buku ini memberikan gambaran bagaimana nasib penulis yang ada di Indonesia, terlihat bagaimana pemerintah kurang memperhatikan para pekerja seni ini. Mereka tidak mendapat uang jaminan kehidupan ataupun uang jaminan kesehatan, sebagai penulis ia hanya mengandalkan upah penjualan buku dan juga honorariumnya ketika diundang mengisi acara.

Sampai, ia sempat dicap sebagai penulis yang memasang tarif, dulu Nh Dini merupakan sosok penulis tulus dan idealis namun karena tekanan kehiudpan dan membutuhkan uang ia menjadi seperti itu. Ia mengaku tidak malu, dan menganggap itu suatu kejujuran dan penghargaan kepada para penulis.

Dalam buku ini juga berisi sindiran dari Nh Dini atas keprihatinanya dengan rendahnya literasi masyarakat Indonesia, dalam kejadian ketika Nh Dini ditawari promosi pada surat kabar dan menolaknya karena dengan honorarium rendah. Ia merasa promosi di surat kabar adalah sia-sia ketika minat literasi atau baca masyarakat rendah, sehingga otomatis yang melihat promosi tersebut hanya sedikit orang saja.

Selain itu, perjalanan Nh Dini ketika diundang berbagai negara untuk menerima penghargaan juga memperlihatkan kontradiksi bagaimana sastra dan bahasa Indonesia dihargai, di Indonesia sendiri penghargaan masyarakat terhadap penulis, sastra dan bahasa Indonesia memang kurang diperhatikan bertolak belakang dengan bagaimana orang asing atau luar Indonesia melihat bahasa kita.

Di Jepang sampai ada fakultas sastra yang memasukkan mata kuliah bahasa Indonesia sebagai muatan wajib, yang dipelajari yaitu dari mulai mendasar hingga level tinggi, tentu ini dapat menjadi cerminan untuk kita semua sebagai warga Indonesia agar lebih menghargai bahasa kita sendiri juga dengan karya sastra dari sastrawan Indonesia yang mendunia dan dibanggakan oleh orang luar.

 

Share:

0 komentar:

Posting Komentar