Judul Buku :
Dari Ngalian ke Sendowo
Penulis :
Nh. Dini
Penerbit :
PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2015
Tebal : 268
halaman
ISBN : 978-602-03-1651-2
Buku ini bercerita tentang perjalanan penulis dimasa tuanya
yaitu Nurhayati Sri Hardini atau biasa
disebut dengan Nh Dini, ia merupakan penulis yang masih aktif berkarya diusia
senjanya. Dengan kemandiriannya ia berangkat dari satu tempat ke tempat lain untuk
mendatangi undangan.
Buku ini berjudul Dari Ngalian ke Sendowo, karena menceritakan
proses hijrah Nh Dini, dari rumahnya di Ngalian Semarang sampai ke Sendowo
Yogyakarta, tepatnya di wisma berisi lansia atau biasa disebut panti jompo.
Di usia senjanya Nh Dini masih aktif menulis dan membagi
ilmunya untuk banyak orang, ia telah mendapat banyak penghargaan atas
karya-karyanya. Diundang mengambil penghargaan baik di dalam maupun luar
negeri, meski diawal ia memiliki idealis tidak mau datang namun akhirnya runtuh
juga. ia akhirnya mau menghadiri perayaan-perayaan penghargaan untuk dirinya
tersebut.
Nh Dini tinggal seorang diri di rumahnya Ngalian Semarang
memiliki pondok baca dan aktif dalam Rotary Club. Di rumahnya ia tinggal
bersama oembantu dan anak-anak asuhnya di pondok baca untuk membantu keperluan
Nh Dini, dan juga membantu merawat pondok baca.
Di usia tuanya ia masih harus mencari uang untuk bertahan
hidup dan mengurus kelanjutan pondok bacanya, karena faktor usia ia sering
mengalami kelemahan fisik dan sakit. Namun karena memang Nh Dini seorang
penulis terkenal ia dapat bantuan dari beberapa rekan dan sanak saudaranya,
beberapa kali ia beruntung mendapat bantuan tersebut karena memang ia mengaku
juka kesulitan dalam hal ekonomi.
Hingga pada suatu ketika ia telah merasa lelah dengan
rumahnya yang besar, dan perlu perbaikan berkala setiap tahun, ditambah biaya
pembantu-pembantunya. Maka ia memutuskan untuk menjual rumahnya dan pindah ke
wisma yang berisi lansia atau disebut panti jompo.
Buku ini memberikan gambaran bagaimana nasib penulis yang ada
di Indonesia, terlihat bagaimana pemerintah kurang memperhatikan para pekerja
seni ini. Mereka tidak mendapat uang jaminan kehidupan ataupun uang jaminan
kesehatan, sebagai penulis ia hanya mengandalkan upah penjualan buku dan juga
honorariumnya ketika diundang mengisi acara.
Sampai, ia sempat dicap sebagai penulis yang memasang tarif,
dulu Nh Dini merupakan sosok penulis tulus dan idealis namun karena tekanan
kehiudpan dan membutuhkan uang ia menjadi seperti itu. Ia mengaku tidak malu,
dan menganggap itu suatu kejujuran dan penghargaan kepada para penulis.
Dalam buku ini juga berisi sindiran dari Nh Dini atas
keprihatinanya dengan rendahnya literasi masyarakat Indonesia, dalam kejadian
ketika Nh Dini ditawari promosi pada surat kabar dan menolaknya karena dengan
honorarium rendah. Ia merasa promosi di surat kabar adalah sia-sia ketika minat
literasi atau baca masyarakat rendah, sehingga otomatis yang melihat promosi
tersebut hanya sedikit orang saja.
Selain itu, perjalanan Nh Dini ketika diundang berbagai
negara untuk menerima penghargaan juga memperlihatkan kontradiksi bagaimana
sastra dan bahasa Indonesia dihargai, di Indonesia sendiri penghargaan
masyarakat terhadap penulis, sastra dan bahasa Indonesia memang kurang diperhatikan
bertolak belakang dengan bagaimana orang asing atau luar Indonesia melihat
bahasa kita.
Di Jepang sampai ada fakultas sastra yang memasukkan mata
kuliah bahasa Indonesia sebagai muatan wajib, yang dipelajari yaitu dari mulai
mendasar hingga level tinggi, tentu ini dapat menjadi cerminan untuk kita semua
sebagai warga Indonesia agar lebih menghargai bahasa kita sendiri juga dengan
karya sastra dari sastrawan Indonesia yang mendunia dan dibanggakan oleh orang
luar.

0 komentar:
Posting Komentar