Rabu, 25 November 2020

Industri Gula di Indonesia Tidak Efisien

Kebutuan gula dalam negeri tidak sesuai dengan produksi gula yang mampu dihasilkan. Menurut Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud menyebutkan, kebutuhan gula nasional mencapai 5,9 ton, sekitar 2,8 juta ton untuk konsumsi dan 3,1 juta ton untuk kebutuhan industri. Namun, produksi gbula dalam negeri hanya mencapai 2,2 juta ton, sehingga sisa kebutuhan gua dipenuhi melalui impor.

Kenyataan ini memberikan fakta bahwa nilai impor Indonesia untuk memenuhi kebutuhan gulai mencapai 4 juta ton tahun 2019, jauh diatas impor China yang 3,4 juta ton, Amerika Serikat 2,9 ton, atau Bangladesh 2,3 juta ton. Menempatkan Indonesia sebagai importir gula terbesar di dunia, jika ini tidak diperhatikan maka dapat mengancam kelangsungan industri gula berbasis tebu di dalam negeri.

Ketergantungan impor gula yang dilakukan Indonesia memberikan gambaran betapa seriusnya masalah ini, dengan luas wilayah Indonesia yang relatif besar tidak menjadikan Indonsia mengalami swasembada gula, wacana untuk target swasembada gula ternyata telah diimpikan sejak kepemimpinan Soeharto namun belum pernah terwujud.

Hal ini cukup ironi, padahal dulu Indonesia pada Indonesia pernah menjadi eksportir sekaligus produsen terbesar gula dunia setelah Kuba di era Hindia Belanda, yang jelas pada saat itu Indonesa masih dalam masa penjajahan dan dikendalikan oleh penjajah Belanda. Setelah merdeka Indonesia mewarisi 179 pabrik gula dari swasta Belanda yang kemudian dikelolah oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) perkebunan.

Masalah ini dari tahun ke tahun belum ada penyelesaian nyata dari pemerintah, karena dilihat dari tingkat impor gula yang semakin tinggi karena kebutuhan gula yang tinggi tidak diimbangi dengan produksi gula dalam negeri.

Usaha pemerintah dalam hal ini tentunya tidak bisa bergantung pada gula impor untuk memenuhi angka kebutuhan tersebut, produksi gula dalam negeri harus dipacu agar industri gula di Indonesia efisien, pertama yaitu dari bahan baku yang berasal dari tebu. Dengan luas lahan yang dimiliki oleh Indonesia bongkar ratoon mencapai 75.000 hektar dan rawat ratoon seluas 125.000 hektar.

Luas lahan tersebut perlu dimaksimalkan dengan mengembangkan varietas unggul tanaman tebu, hal ini bisa dicapai jika pengembangan teknologi dan lembaga riset penelitian terkait mendapatkan benih unggul ini perlu menjadi perhatian dari pemerintah. Para peneliti ini memerlukan dukungan agar dapat menciptakan varietas baru tebu yang efisien. Karena negara-negara besar di dunia yang memiliki produksi gula tinggi berasal dari kemajuan teknologi dan penelitiannya.

Pemerintah perlu memperhatikan peneliti-peneliti dalam bidang pertanian Indonesia, agar dapat terus mengembangkan varietas yang unggul setiap tahunnya, tentunya berdampak pada efisiensi produksi lahan. Cukup disayangkan ketika kenyataan lahan yang luas namun tidak didukung dengan varietas unggul dari bibit tanaman tebunya sendiri.

Menurut Ketua Umum Dewan Pembina DPP Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) HM Arum Sabil, mengatakan bahwa Lembaga Riset seperti Pusat Penelitian Gula Indonesia di Pasuruan, varietas tebu sampai hampir 5.000, namun tidak dikelolah para peneliti dibiarkan terlantar, karena sibuk dengan ekonomi saat ini dan dibiarkan. Cukup disayangkan terkait kenyataan ini, padahal jika produksi gula meningkat dan paling tidak dapat menutup kebutuhan gula di Indonesia sendiri, tentunya hal tersebut juga berdampak pada ekonomi di Indonesia.

Lalu wacana dari kementrian yang akan membuka areal lahan baru seluas 50.000 hektar ini juga dapat menjadi cara untuk meningkatkan produksi gula maka lahan ini harus sepenuhnya digunakan secara maksimal dan efisien.

Jika target produksi gula dapat meningkat, maka selanjutnya yaitu cara bagaimana menjaga kestabilan harga gula produksi BUMN agar dapat persaing dengan swasta. Pabrik gula BUMN perlu belajar dari pabrik gula milik swasta yang dapat menjaga harga gula antara Rp 5.000 – Rp 6.000 perkilogram hingga mampu bersaing di level global.

Lalu Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) sekaligus Wakil Menteri Perdagangan periode 2011 – 2014 Bayu Krisnamurthi berpendapat, selisih gula berbasis tebu di Indonesia dan gula impor memiliki angka selisish yang relatif besar yaitu mencapai Rp 4.000 – Rp 4.500 per kilogram, memberikan fakta tidak efisiennya pabrik gula di dalam negeri, sehingga menyebabkan tingginya biaya produksi yang berdampak pada harga gulanya sendiri. Kenyataan ini memicu rembesan gula rafinansi ke pasar gula konsumsi sehingga turut menekan harga di tingkat petani tebu.

Cukup disayangkan produksi dalam negeri yang membutuhkan usaha dan waktu yang lebih besar karena keterbatasan teknologi, sehingga otomatis memperbesar biaya produksi, namun petani harus mengalami harga anjlok di pasaran. Posisinya yang lemah menyebabkan petani hanya sebagai penerima harga saja di pasaran.

Tercatat pada saat lelang pertama di lingkungan PT Perkebunan Nusantara XI, 12 Juni 2020, misalnya, 3.905 ton gula laku antara Rp 10.610 – Rp 10.710 perkilogram. Hal ini tentu tidak seimbang dengan harga produksi dan tenaga yang dikeluarkan oleh petani gula. Tentu ini berkaitan dengan regulasi pemerintah yang melonggarkan aturan impor.

Pemerintah memang pada akhir-akhir ini sering impor gula, harga gula dari luar memang relatif lebih murah namun karena hal tersebut akhirnya banyak masyarakat lebih memilih gula impor daripada gula yang berbasis tebu dari petani, yang secara tidak langsung membunuh petani dengan perlahan dan menekan industri gula di Indonesia. Kebijakan yang jelas dan komprehensif juga dibutuhkan dalam masalah ini, untuk membantu para petani tebu dan industri gula Indonesia tetap produktif dan tidak kalah saing dengan gula impor.

Share:

Dari Ngalian ke Sendowo

 



Judul Buku : Dari Ngalian ke Sendowo

Penulis : Nh. Dini

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun : 2015

Tebal : 268 halaman

ISBN : 978-602-03-1651-2

Buku ini bercerita tentang perjalanan penulis dimasa tuanya yaitu  Nurhayati Sri Hardini atau biasa disebut dengan Nh Dini, ia merupakan penulis yang masih aktif berkarya diusia senjanya. Dengan kemandiriannya ia berangkat dari satu tempat ke tempat lain untuk mendatangi undangan.

Buku ini berjudul Dari Ngalian ke Sendowo, karena menceritakan proses hijrah Nh Dini, dari rumahnya di Ngalian Semarang sampai ke Sendowo Yogyakarta, tepatnya di wisma berisi lansia atau biasa disebut panti jompo.

Di usia senjanya Nh Dini masih aktif menulis dan membagi ilmunya untuk banyak orang, ia telah mendapat banyak penghargaan atas karya-karyanya. Diundang mengambil penghargaan baik di dalam maupun luar negeri, meski diawal ia memiliki idealis tidak mau datang namun akhirnya runtuh juga. ia akhirnya mau menghadiri perayaan-perayaan penghargaan untuk dirinya tersebut.

Nh Dini tinggal seorang diri di rumahnya Ngalian Semarang memiliki pondok baca dan aktif dalam Rotary Club. Di rumahnya ia tinggal bersama oembantu dan anak-anak asuhnya di pondok baca untuk membantu keperluan Nh Dini, dan juga membantu merawat pondok baca.

Di usia tuanya ia masih harus mencari uang untuk bertahan hidup dan mengurus kelanjutan pondok bacanya, karena faktor usia ia sering mengalami kelemahan fisik dan sakit. Namun karena memang Nh Dini seorang penulis terkenal ia dapat bantuan dari beberapa rekan dan sanak saudaranya, beberapa kali ia beruntung mendapat bantuan tersebut karena memang ia mengaku juka kesulitan dalam hal ekonomi.

Hingga pada suatu ketika ia telah merasa lelah dengan rumahnya yang besar, dan perlu perbaikan berkala setiap tahun, ditambah biaya pembantu-pembantunya. Maka ia memutuskan untuk menjual rumahnya dan pindah ke wisma yang berisi lansia atau disebut panti jompo.

Buku ini memberikan gambaran bagaimana nasib penulis yang ada di Indonesia, terlihat bagaimana pemerintah kurang memperhatikan para pekerja seni ini. Mereka tidak mendapat uang jaminan kehidupan ataupun uang jaminan kesehatan, sebagai penulis ia hanya mengandalkan upah penjualan buku dan juga honorariumnya ketika diundang mengisi acara.

Sampai, ia sempat dicap sebagai penulis yang memasang tarif, dulu Nh Dini merupakan sosok penulis tulus dan idealis namun karena tekanan kehiudpan dan membutuhkan uang ia menjadi seperti itu. Ia mengaku tidak malu, dan menganggap itu suatu kejujuran dan penghargaan kepada para penulis.

Dalam buku ini juga berisi sindiran dari Nh Dini atas keprihatinanya dengan rendahnya literasi masyarakat Indonesia, dalam kejadian ketika Nh Dini ditawari promosi pada surat kabar dan menolaknya karena dengan honorarium rendah. Ia merasa promosi di surat kabar adalah sia-sia ketika minat literasi atau baca masyarakat rendah, sehingga otomatis yang melihat promosi tersebut hanya sedikit orang saja.

Selain itu, perjalanan Nh Dini ketika diundang berbagai negara untuk menerima penghargaan juga memperlihatkan kontradiksi bagaimana sastra dan bahasa Indonesia dihargai, di Indonesia sendiri penghargaan masyarakat terhadap penulis, sastra dan bahasa Indonesia memang kurang diperhatikan bertolak belakang dengan bagaimana orang asing atau luar Indonesia melihat bahasa kita.

Di Jepang sampai ada fakultas sastra yang memasukkan mata kuliah bahasa Indonesia sebagai muatan wajib, yang dipelajari yaitu dari mulai mendasar hingga level tinggi, tentu ini dapat menjadi cerminan untuk kita semua sebagai warga Indonesia agar lebih menghargai bahasa kita sendiri juga dengan karya sastra dari sastrawan Indonesia yang mendunia dan dibanggakan oleh orang luar.

 

Share:

Rabu, 18 November 2020

Belum Meratanya Akses Kesehatan di Indonesia

 

Pelayanan kesehatan yang memadahi merupakan kewajiban yang harus didapat setiap warga negara Indonesia. Semua masyarakat baik dengan perekonomian kebawah dan keatas berhak atas itu, selain itu juga masyarakat kota hingga daerah terpencilpun juga memiliki hak atas akses kesehatan yang berkualitan, karena sama-sama warga negara Indonesia.

Program kesehatan yang terlihat ketimpangan yaitu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Kartu Indonesia Sehat, dilihat dari survei Komnas Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dengan 1.200 responden. Dalam survei tersebut menghasilkan 72,4 persen responden menyatakan mudah mencapai fasilitas kesehatan dari program JKN. Disisi lain, masih ada 19,8 persen responden yang mengaku masih kesulitan mencapai fasilitas kesehatan. Kesulitan makin tinggi pada wlayah Indonesia bagian timur

Tentu saja hal ini harus diperhatikan oleh pemerintah, agar dapat memeratakan akses kesehatan bagi warga Indonesia dimanapun berada. Kesehatan yang baik dibutuhkan semua orang, jika fasilitas kesehatan tidak merata maka menurunkan produktifitas daerah tersebut. Bayangkan jika harus ada orang di daerah bagian timur meninggal begitu saja sebelum perawatan. Selain itu, pelayanan kesehatan yang baik juga meningkatkan kesehatan ibu dan anak ketika proses melahirkan, tentu saja dapat membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang lebih baik.

Masyarakat Indonesia bagian timur juga meresahkan ketidakpastian adanya tenaga kesehatan, baik dari dokter, perawat, dan bidan. Terhitung ada 43.8 persen tidak menentu dan 31,3 persen selalu ada tenaga kesehatan.

Selain fasilitas yang baik, tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan warga. Mereka ini yang memiliki ilmu dan pengalaman sangat dibutuhkan untuk dapat mengobati dan menyembuhkan orang dengan tepat. Hasil survei ini dapat dijadikan evaluasi pemerintah untuk menambah tenaga kesehatan, terutama yang mau ditempatkan di Indonesia bagian manapun.

Salah satu cara pemerintah untuk menambah tenaga kesehatan yaitu, dengan mempermudah semua masyarakat yang memiliki kecerdasan dan rasa ingin belajar tentang kesehatan. Tidak bisa dipungkiri biaya pendidikan dokter tidak murah. Pemerintah bisa membantu anak berprestasi untuk memperoleh pendidikan dokter dari ekonomi rendah. Selain itu memberikan tunjangan yang lebih kepada tenaga kesehatan lain seperti perawat dan bidan.

Tidak cukup hanya itu, ketersediaan obat serta alat kesehatan juga harus ditingkatkan agar saling melengkapi. Mengingat semua masyarakat juga memiliki kewajiban membayar iuran sama besar, tentu fasilitas kesehatan yang berkualitas wajib dirasakan semua masyarakat.

Perbedaan beban pungutan masih terjadi, terlihat dari survei setidaknya 34,4 persen responden di wilayah Indonesia timur terkena biaya pungutan ketika mengakses JKN-KIS. Lalu sebanyak 55,8 persen responden menyatakan fasilitas yang bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Nasional (BPJS) Kesehatan masih terbatas, hal itu dikarenakan prosedur pendaftaran dan pembayaran iuran yang masih sulit.

Prinsip jaminan kesehatan yang dijalankan pemerintah ini, yang berupa asuransi kesehatan diharapkan dapat membantu semua kalangan masyarakat agar mendapat fasilitas kesehatan yang sama. Karena semuanya membayar iuran setiap bulan baik sehat maupun sakit, tentu dengan iuran tersebut semua masyarakat harus mendapat fasilitas kesehatan yang baik ketika sakit karena mereka juga memerlukan usaha dalam pembayarannya.

Pemerintah perlu membangun rumah sakit di daerah-daerah terpencil karena tidak bisa dengan mengharapkan rumah sakit swasta akan membangun rumah sakit di daerah terisolir karena berorientasi pada bisnis, ini merupakan kesadaran pemerintah sendiri, untuk membantu warganya.

Jika telah dibangun rumah sakit, pelayanan dari tenaga medis pun juga harus ditingkatkan. Dari cara memperlakukan pasien, hingga penanganannya. Masih banyak berita penolakan dari rumah sakit karena tidak memiliki biaya, ataupun sulitnya mengakses BPJS. Jangan sampai ada lagi berita-berita terkait penelantaran pasien oleh rumah sakit. Karena sakit sudah susah lalu ditambah aksek kesehatan yang rumit.

Pemerintah harus sadar akan luasnya negara Indonesia yang berbentuk banyak kepualauan, setidaknya ditingkatkan aksen penyaluran informasi agar informasi terkait kesehatan lebih cepat dan segera ditangani. Memanfaatkan teknologi dengan maksimal, dangan mengusahakan penggunaan teknologi di Indonesia dapat menjadi penunjang pelayanan kesehatan. Didalam teknologi, seperti internet kita semua dapat mengakses wawasan terkait kesehatan dengan mudah. Disini peran pemerintah yaitu meningkatkan kualitas jaringan untuk semua daerah.

Populasi di Indonesia merupakan 4 terbesar di dunia, disayangkan jika pelayanan dan kesadaran kesehatan rendah. Salah satu masalah dari populasi ini yaitu kasus stunting di Indonesia masih tinggi. Bedasarkan data riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2019, angka stunting di Indonesia mencapai 30,8 persen. Sementara target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka stunting tidak boleh lebih dari 20 persen.

Jika kesadaran masyarakat tinggi akan informasi kesehatan serta pelayaanan kesehatan ditingkatkan maka hal itu tentu dapat menurunkan angka stunting. Percuma saja dengan banyak populasi tapi tidak diimbangi dengan tingginya kualitas SDM. Stunting sendiri berasal dari polah asuh dan pemberian gizi.

Karena tidak bisa dipungkiri pemerintah masih belum detail dalam melihat kebutuhan masyarakat sampai dengan kualitas gizi mereka. Padahal dampak stunting sendiri yaitu menyebabkan, rendahnya kecerdasan anak dibawah rata-rata, sistem imun tubuh yang tidak baiuk, dan anak beresiko tinggi menderita penyakit diabetes.

Stunting menyebabkan banyak masalah kesehatan, jika dari awal pemerintah memperhatikan ini maka bisa dipastikan kesehatan masyarakat Indonesia lebih berkualitas.

 

Share:

Selasa, 17 November 2020

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Ironi Perkelaminan Manusia

 



Judul Buku                          : Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas

Penulis                                 : Eka Kurniawan

Penerbit                                : PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN                                    : 978-602-03-0393-2

Tebal                                     : 243 halaman

Tahun Terbit                          : 2014

Berawal dari keisengan dua bocah yang baru memasuki usia baliq, yaitu Si Tokek yang mengajak Ajo Kawir melihat rumah seseorang perempuan gila bernama Rona Merah. Dua bocah tersebut awalnya ingin melihat tubuh perempuan tersebut ketika mandi dengan mengintip di salahsatu lubang rumahnya, namun tiba-tiba datang dua polisi menyetubuhi perempuan gila tersebut yang membuat Si Tokek dan Ajo Kawir kaget. Kemudian tiba-tiba Si Tokek terpleset dan jatuh, menyebabkan pengintipan mereka diketahui dua polisi tersebut.

Si Tokek berhasil melarikan diri dan sempat sembunyi, namun Ajo Kawir tertangkap polisi tersebut lalu dimasukkan ke rumah Rona Merah. Ajo Kawir dipaksa melepaskan celananya dan secara paksa oleh kedua polisi itu Ajo Kawir disuruh menyetubuhi Rona Merah, sejak saat itu Ajo Kawir mengalami impoten, dalam buku tersebut disebutkan burungnya tidur dan tak mau bangun.

Selama burungnya tidur Ajo Kawir telah melakukan berbagai cara untuk membangunkannya dari cara masuk akal hingga tidak masuk akal tapi semua hasilnya nihil, burungnya tetap terlelap dan tak mau bangun. Hingga Si Tokek memberikan motivasi dengan mengatakan, jika burungnya pun bangun maka belum tentu akan digunakan untuk perempuan. Perkataan Si Tokek sedikit melegakan Ajo Kawir hingga akhirnya dapat menerima dan berhenti memaksanya bangun.

Dengan kekurangannya itu setiap kesal ia mencoba melampiaskannya dengan berkelahi, dengan siapapun yang apes ketemu Ajo Kawir karena ia selalu mecari gara-gara. Hingga pada suatu ketika ia harus berkelahi dengan perempuan yaitu Iteung. Iteung telah membuat Ajo Kawir jatuh cinta, begitupun Iteung namun Ajo Kawir mencoba menghindar dengan menolak cinta Iteung karena merasa tidak bisa memberikan Iteung kepuasan dalam pernikahan dengan kekurangan burungnya.

Namun ternyata tak disangka Iteung ternyata mau menerima Ajo Kawir dengan kekurangannya lalu menikah, namun pernikahannya tersebut tidak semulus janji Iteung karena ia malah hamil yang jelas bukan anak dari Ajo Kawir.

Cerita dalam novel ini merupakan alegori kehidupan manusia, saya melihat manusia merupakan objek dari berjalannya kehidupan. Manusia tidak mengerti nasibnya dikemudian hari, apa yang mereka inginkan dengan apa yang mereka dapat pun diluar kehendak manusia.

Seperti Ajo Kawir, ia tidak menyangka bahwa hal yang ia anggap nikmat kemudian hilang begitu saja karena burungnya tak mau bangun, ia banyak belajar dari burungnya tentang hidup. Ketika ia sangat memaksa burungnya bangun, dan meluapkan kekesalan dengan hal negatif burungnya tetap tidur tak mau bangun, hingga suatu kejadian yang membuatnya sadar ketika diselingkuhi istrinya kemudian membunuh orang lalu dipenjara.

Dalam pesakitannya di penjara ia belajar tentang ketenangan dan menerima kenyataan, ia sudah ikhlas dengan keadaan burungnya dan berhenti mencari gara-gara dan mulai menjalani hidup sebagai supir truk dengan benar dan mencari ketenangan. Ketika itu bertemu Jelita, Jelita yang saya lihat ialah respresentasi dari nikmat yang diberikan kepada manusia namun disepelekan seperti kesehatan, pikiran tenang, dan hidup aman karena manusia biasanya terlalu fokus terhadap materi seperti harta kekayaan. Jelita memang buruk rupa, namun ia mampu membangunkan burung Ajo Kawir, disaat ia sudah mulai menerima hidup. Dalam kasus Ajo Kawir dan Jelita saya setuju kata-kata, disaat manusia bersyukur maka akan ditambah nikmatnya.

Di dalam buku ini juga memberikan pelajaran terkait perempuan dan laki-laki. Seperti pada saat polisi melakukan pelecehan terhadap Rona Merah, memang Rona Merah gila tapi tidak seharusnya mendapatkan hal tersebut. Ia juga berhak dihargai seperti perempuan pada umumnya. Ini sekaligus memberi tahu kebobrokan kaum laki-laki tanpa peduli dengan siapa jika sudah birahi maka melakukan segala cara untuk melampiaskan tidak peduli dengan seseorang perempuan gila.

Seperti dalam salah satu teks di buku ini yaitu, Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang abnyak bisa dilakukan kepala.

Tentang kasus kebutuhan sex antara perempuan dan laki-laki Eka dalam bukunya ini, penggambarannya seimbang tidak hanya menyudutkan kaum laki-laki. Begitupun perempuan juga memiliki hawa nafsu dan kebutuhan birahi yang harus dipenuhi. Seperti Iteung sebagai istri Ajo Kawir yang tidak bisa memberikan pelayanan dengan maksimal ia melampiaskan itu dengan berselingkuh dan mencari kenikmatan dari laki-laki lain. Tentu ini merusak norma pernikahan sebagai pasangan yang dapat menerima apapun keadaan suaminya, Iteung juga mengingkari janji kepada Ajo Kawir terkait dapat mencintai sepenuhnya walaupun impoten. Tapi malah dirusak dengan kelakuannya sendiri.

Walapun sama-sama mau Iteung juga meliki keegoisan tinggi dan play victim ketika ditinggal Ajo Kawir. Ia tidak memperbaiki kelakuan dan membesarkan anaknya dengan baik malah membunuh selingkuhannya yang menyebabkan ia harus dipenjara dan tidak bisa bersama anaknya.

Kehidupan manusia memang begitu kompleks dengan segala keinginan dan permasalahan yang harus dihadapi, perihal itu juga manusia tidak dapat mengontrol semua yang harus terjadi dalam hidupnya, karena semua kejadian tersebut berjalan dan terjadi begitu saja, manusia hanya bisa memberikan respon entah dalam hal posotif atau negatif dalam menghadapi setiap kejadian baik maupun buruk.

 

Share:

Rabu, 11 November 2020

Tumpul ke Atas, Tajam ke Bawah




Judul              : The Trial PROSES

Penulis           : Franz Kafka

Penerjemah    : Sigit Susanto

Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN              : 978-602-03-2895-9

Tebal              : 261

Tahun             : 2016 (Cetakan I)

 

Novel ini berawal langsung ke tema cerita tanpa diberi pengenalan, yaitu diceritakan ketika seorang manajer bank bernama Josef K, didalam novel ini disebut dengan K. K tiba-tIba ditangkap dan diajukan ke pengadilan tanpa menjelaskan alasan kesalahannya ditangkap.

Selanjutnya K harus ke pengadilan. Namun, ketidakjelasan semakin terlihat dari mulai K menuju ke pengadilan, alamat tidak jelas dan setelah sampai di pengadilan respon orang-orang didalamnya aneh mereka bersama tepuk tangan untuk K.

K membuka keburukan petugas yang ada di pengadilan yang menyebabkan mereka mendapat hukuman, petugas tersebut yaitu Franz dan Wilhem diberikan hukuman cambuk karena kesalahannya.

Pengadilan K dalam cerita ini berjalan begitu panjang dan tidak jelas, K pun bosan dengan perkembangan kasusnya yang memang tidak ia ketahui. Pelarian K yaitu ia mengunjungi bar dan bertemu banyak gadis, menjalin dengan empat perempuan yaitu Fraulein Burstner, istri penjaga di pengadilan, Elsa pegawai bar dan Leni.

Di akhir cerita ada cerita pendek dari penulis yang berjudul Di Depan Hukum, cerita ini disampaikan penulis lewat percakapan pendeta dengan K. Dalam cerita memberikan gambaran suatu sistem hukum serta menyindir penerapan hukum saat ini.

Diceritakan ada orang desa yang ingin memasuki pintu yang memiliki penjaga, pintu tersebt merupakan gerbang masuk yang menurut interpetasi saya yaitu suatu hukum yang di idam-idamkan oleh kebanyakan orang yaitu adil, jelas dan tidak berpihak, tentunya ini ditujukan untuk semua orang tanpa memandang apapun.

Namun, dalam kenyataanya dalam cerita pendek tersebut orang desa tidak diberikan akses masuk oleh penjaga, dalam cerita pendek juga disebutkan  bahwa penjaga tidak mengizinkan masuk karena ia telah diperintahkan oleh atasannyayang memiliki lebih tinggi kedudukan dan pengaruhnya, namun disisi lain si penjaga masih memberikan harapan dikemudian hari orang desa tersebut dapat memasukinya tapi tidak jelas entah kapan.

Dari cerita novel ini menggambarkan sistem hukum sekarang, dari cerita K mulai penangkapan dan pengadilannya. Membuat pembaca mengerti bahwa tidak semua orang yang dipenjara atau diadili jelas-jelas memiliki kesalahan, hukum bukanlah suatu produk yang sempurna. Memang terlihat jelas peraturan-peraturan dalam hukum memiliki tujuan yang baik agar semuanya yang ada dalam hidup berjalan sesuai ada sebab akibat.

Pada kenyataannya dalam pelaksanaannya hukum tidak sebaik itu, hal ini dikarenakan oleh orang-orang yang sebagai penegak aturan hukum tidak menjalankan dengan semestinya.

Begitu pula dalam cerita pendek yang ditulis Kafka diakhir cerita yang berjudul didepan hukum, memberikan pembaca suatu kesadaran bahwa hukum memang tumpul ke atas tajam ke bawah, karena orang yang memiliki kedudukan dan pengaruh lebih bisa mengontrol hukum seperti penjaga yang lebih memilih untuk tidak membukakan pintu karena memang ditugaskan oleh atasannya yang lebih memiliki pengaruh.

Orang desa yang memang notabennya orang biasa tidak semudah itu memiliki akses pintu itu yaitu sebuah sistem hukum yang adil, seperti pada kasus-kasus yang ada di Indonesia ketika ada orang mencuri untuk makan serta melanjutkan hidup malah dihukum dan diadili atas tindakan salahnya.

Disisi lain ketika kita melihat kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh petinggi pemerintahan, hukuman yang mereka dapatkan sungguh ringan atau bahkan kebal hukum dibanding kerugian yang ditimbulkan yaitu menghabiskan uang negara dari hasil kerja keras rakyat untuk membayar pajak.

Namun cerita dari penjaga pintu yang masih memberikan harapan suatu hari kelak akan membukakan pintu untuk orang desa, seperti menggambarkan hukum masih memberikan gambaran-gambaran baik untuk diluarnya pencitraan dalam hukum masih ada walaupun pada kenyataannya tidak seindah itu.

Buku ini memang memiliki kerumitan tersendiri, dari mulai pengenalan tema dan penokohan. Cukup lelah untuk menyelesaikan buku ini dengan layout paragraf yang sangat panjang. Namun cerita yang dibawa buku masih relevan untuk dibaca sebagai cermin penerapan hukum di Indonesia.

Share:

Selasa, 10 November 2020

Merayakan Perpisahan

Selamat yaa...


Atas pencapaianmu hari ini

Maaf tidak sempat mengucap selamat ketika hari kelahiranmu

Karena memang saat itu aku tidak baik-baik saja

Setiap hari aku masih berusaha mencari alasan

Untuk dapat benar-benar menganggapmu bukan siapa-siapa lagi

Maafkan aku yang tidak bisa hadir disaat kau meraih satu-persatu pencapaianmu

Hmmm karena memang aku bukan keinginanmu

Tapi disamping itu aku tetap merasa tenang

Keluargamu masih selalu ada untuk mendukung dan sebagai tempatmu pulang

Sekarang sambut masa depan indahmu dengan atau tanpa aku

Memang aku sempat memiliki harapan untuk dapat bersamamu melewati hari-hari beratmu

Atau tersenyum paling bahagia ketika engkau memperoleh pencapainmu

Namun harapan sekedar harapan sampai kekecewaan itu datang

Terima kasih

Maaf jika semua ini masih belum jelas

Bukan aku ingin mempersulit tapi kamu yang membuat ini semakin tidak jelas
Share: