Senin, 18 Oktober 2021

Kosong

 

Kosong

Saat ini semuanya tidak terasa apa-apa

Ingin sedih tidak ada yang akan peduli

Lalu dimana asal kekosongan yang aku rasakan

Apakah ini karena tidak berartinya hari demi hari

Sudah tidak ada yang perlu diperjuangkan

Apakah masih ada yang peduli?

Share:

Rabu, 06 Januari 2021

Baik Buruk Kebijakan PPPK untuk Honorer

 Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa mungkin kata-kata itu benar adanya, seorang guru yang memiliki peran untuk mencerdaskan muridnya untuk membantu meraih cita-cita mereka. Namun, nasib guru tidak semua beruntung dengan pekerjaan yang telah ia jalani, kesejahteraan guru tidak merata. Guru yang telah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) mungkin beruntung karena telah mendapatkan upah yang layak,tapi guru menjadi PNS  di Indonesia saat ini bukanlah jalan yang mudah untuk dilalui.

Banyak guru aktif mengajar dengan status masih honorer, kenyataan di Indonesia guru yang berstatus honorer digaji dengan sukarela oleh pihak sekolah yang jauh dibawah layak untuk memenuhi kebutuhan, tugas guru yang bertanggung jawab dalam mencerdaskan anak bangsa tidak sebanding dengan kesejahteraan yang ia dapat dalam profesinya.

Saat ini pemerintah, membuat kebijakan untuk merekrut satu juta guru untuk menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Jika kebijakan ini dijalankan secara permanen maka sudah tidak ada kesempatan guru menjadi PNS, guru PPPK mendapatkan gaji dan tunjangan seperti PNS. Namun, pada guru yang berstatus PPK mereka tidak mendapat gaji untuk hari tua atau pensiun.

Sistem pensiun menjadi iuran pasti dimana aparatur sipil negara (PNS dan PPPK) membayar uang pensiun sesuai besaran gaji yang telah didapatkan setiap bulan. Pada guru yang berstatus PPPK difokuskan pada peningkatan kualitas pendidikan, membatasi guru dalam menduduki jabatan struktural. 

Dengan kebijakan dari pemerintah tersebut, guru setuju akan hal itu agar honorer dapat mendapat kesempatan memperoleh gaji yang layak, namun tidak setuju jika kebijakan ini diterapkan secara permanen

Kualitas pendidikan di Indonesia belum dapat dikatakan berkualitas, output dari siswa yang bersekolah masih belum bisa membawa perubahan pada Indonesia, atau sekedar membawa diri mereka sendiri untuk menghadapi dunia dengan bekal apa yang ia dapat di sekolah. Masih bayak peserta didik yang kebingungan dengan apa yang telah mereka pelajari di sekolahnya.

Memang sistem pembelajaran masih menggunakan guru sebagai rujukan dan pusat perhatian dikelas, yaitu dengan pembelajaran ceramah. Dimana siswa hanya sebagai penerima apa yang materi dari guru jelaskan, lalu menanyakan apa yang tidak mengerti dari apa yang guru jelaskan. Setiap hari para siswa hanya diberikan pelajaran sesuai yang guru inginkan, sistem pendidikan di Indonesia masih megeneralisir semua siswanya menjadi apa yang guru mau, atau tuntutan standar umum bukan dari kemampuan maisng-masing dari peserta didik. Kelas-kelas belum ada diskusi atau bahkan murid-murid yang menjadi pemantik diskusi, pelajaran hanya menggunakan satu arah, belum ada timbal balik oleh murid terkait materi. 

Memang tidak bisa dipungkiri jika kualitas dari sistem pendidikan di Indonesia dapat meningkat jika adanya kerjasama antara semua pihak. Guru memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah, karena lewat guru penanaman materi, pelajaran, serta norma untuk siswa. Namun, jika tugas guru yang begitu berharga tersebut tidak diimbangi dengan kesejahteraan hidupnya, menyebabkan profesi guru bukanlah profesi utama untuk bertahan hidup.

Banyak guru tidak hanya menjalankan profesi guru sebagai satu-satunya, mereka juga memulai usaha lain yang dapat menutupi kebutuhan hidupnya. Tentu hal ini menyebabkan kurang fokusnya ia dalam memahami materi karena memang jika tidak begitu juga, belum bisa mengandalkan gaji guru honorer.

Tentu kebijakan pemerintah untuk PPPK kepada honore harus dapat dijadikan sebua alternatif selain diangkat menjadi PNS, jika dalam sistem PPPK tepat sasaran dan berjalan dengan semestinya, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Share:

Selasa, 22 Desember 2020

Sulitnya Mencari Sosok Ove pada Laki-laki Milenial


Judul: A Man Called Ove

Penulis: Fredrik Backman

Halaman: 440

Penerbit: Noura Books

Cetakan: 1, 2016

ISBN: 978-602-385-0235

“Orang dinilai dari yang mereka lakukan. Bukan dari yang mereka katakan.”- halaman 105

Laki-laki dingin tidak banyak bicara yang kehilangan ibunya diwaktu kecil kemudian disusul dengan ayahnya yang meninggal tertabrak kereta api, kehidupan laki-laki tersebut menjadi kosong karena orang yang disayangi meninggalkannya, ia hanya ditinggali ayahnya rumah sepetak, mobil saab, dan arloji.

Laki-laki tersebut adalah Ove, dia banyak belajar dengan ayahnya yang selalu melakukan kebaikan dan tindakan yang menguntungkan banyak orang. Ove adalah laki-laki yang telah kehilangan semuanya, bahkan rumahnya terbakar karena digusur.

Ove menjadi laki-laki yang tidak punya tujuan, naik kereta entah akan pergi kemana. Ketika Ove tertidur dalam kereta ia terbangun melihat sosok wanita cantik yang bernama Sonja, ia langsung tersenyum kepada Ove dengan senyum manisnya. Ketika harus bayar karcis Ove tidak memiliki uang, Sonja lalu meminjami uang kepada Ove. Ove berjanji akan mengembalikan uang tersebut.

Setiap hari ia menunggu dan mencari Sonja di kereta namun belum bertemu, hingga tiga bulan kemudian ia bertemu dengan Sonja di kereta. Ove mengembalikan uang yang telah ia pinjam, lalu Sonja mengajak Ove untuk makan malam. Mereka makan malam bersama, berakhir dengan ciuman mesra dari Sonja, dan mereka berdua kemudian berkencan.

Ove banyak berusaha, ia telah menyelesaikan studinya untuk menjadi insinyur. Lalu melamar Sonja, kemudian menikah. Semenjak kedatangan Sonja hidup Ove yang tidak ada tujuan menjadi berwarna. Sonja mengisi hari-hari Ove dengan kebahagiaan setiap harinya.

“Orang mengatakan Ove melihat dunia dalam warna hitam putih. Namun, perempuan itu berwarna-warni. Seluruh warna yang dimiliki Ove.” – halaman 62.

Ove begitu mencintai istrinya, kemudian mereka merencanakan liburan ke Spanyol, liburan tersebut sangat bahagia namun harus berakhir dengan kecelakaan pada saat pulang. Ove harus kehilangan calon anaknya bersama Sonja, dan istrinya menjadi cacat permanen tidak dapat berjalan.

Sonja melanjutkan studinya untuk menjadi guru, namun setelah lulus ia sulit memperoleh pekerjaan, karena cacat. Ove berusaha agar istrinya menjadi guru dengan menulis surat untuk pemerintah, hingga akhirnya Sonja menjadi guru. Ove membangun fasilitas sendiri untuk istrinya agar mudah dalam menjalankan pekerjaannya.

Dimasa tuanya, Sonja meninggalkan Ove terlebih dahulu karena sakit kanker. Kehidupan Ove menjadi tak terarah, tujuan hidupnya telah hilang. Sonja merupakan warna Ove, ia harus kehilangan warnanya. Ove menjadi tua yang menyebalkan, selalu bertengkar dengan tetangga, dan meledak-ledak ketika melihat sesuatu yang tidak benar menurutnya.

Semua orang membenci Ove, namun tidak dengan tetangga barunya seorang pasangan yang memiliki dua anak, dan perempuannya juga sedang hamil. Percobaan bunuh diri Ove, banyak digagalkan oleh tetangganya tersebut, Ove sangat kesal dan tidak menaruh perhatian pada tetangganya. Namun, dengan kecuekan dan kesinisan Ove kepada tetangganya, Ove tetap mau membantu ketika tetangganya tersebut meminta bantuan kepadanya.

Ove seseorang yang banyak tidak disukai orang sekitar, karena kebanyakan orang yang melihat Ove hanya pada satu sisi Ove, ia hanyalah laki-laki yang kehilangan semua yang berharga dari dirinya, apa yang menjadi alasannya untuk tetap hidup dan terus berjuang telah meninggalkannya, maka ia menjadi seseorang yang sensitif dan tempramental.

Bagaimana Ove adalah gambaran orang dengan dua sisi, ia begitu lembut dan penuh kasih sayang di depan istrinya, dan begitu dingin di depan orang lain. Pada kenyataannya Ove bukanlah laki-laki yang apatis, Ove hanya tidak bisa mengungkapkan kasih sayangnya kepada orang lain, istrinya lah yang mengerti bahwa suaminya tersebut begitu penuh dengan cinta.

Kisah hidup Ove banyak memberikan pelajaran terkait dedikasi sebuah cinta, ia begitu mencintai istrinya memberikan semuanya untuk orang yang ia sayangi, Ove adalah seseorang yang hidup untuk orang lain, bukan seperti gambaran orang lain terhadapnya yaitu menyebalkan dan tempramental.

Ove seseorang yang tulus namun harus dihadapkan pada kenyataan hidup yang selalu menyakitkan, ia dapat bangkit dari semua masalah hidupnya karena berjuang untuk orang yang ia cintai. Tentu sangat berbeda dengan cinta yang digembor-gemborkan pemuda-pemudi zaman sekarang, yang menggunakan cinta hanya sekedar ucapan semata.

Karena prinsip hidup Ove, perkataan tidak penting dan yang terpenting adalah perbuatan. Berbanding terbalik dengan laki-laki sekarang yang banyak berkata, minim pembuktian. Terlihat dari banyaknya kasus-kasus mengenai hubungan remaja yang berakhir dengan seks bebas dan lari dari tanggung jawab.

Dulu cinta adalah sebuah rasa sayang terhadap orang lain, dan digunakan untuk saling membahagiakan memberikan sesuatu tidak hanya sekedar fisik, namun persatuan antar jiwa manusia. Cinta adalah sesuatu yang sakral tidak mudah untuk diucapkan untuk sembarang orang, diucapkan oleh seseorang yang menaruh hati begitu dalam dan berniat untuk berjanji membahagiakan seumur hidup.

 

Share:

Jumat, 18 Desember 2020

Politik Uang Masih Eksis Saat Pemilu

Pemilu serentak telah dilaksanakan dibeberapa daerah, namun praktik uang untuk memperoleh banyak suara masih banyak ditemuhi. Menurut laporan dari berita kompas ada 136 dugaan tindak pidana pemilu yang ditangani oleh Sentra Penegakan Hukum Terpadu. Tertinggi adalah politik uang dengan 104 kasus.

Praktik ini diperparah karena kampanye pada situasi pandemi Covid-19, para paslon tidak dapat mengumpulkan pendukungnya untuk melakukan kampanye dan memperoleh suara dengan bertemu, maka dengan uang adalah cara praktis dan mudah dalam menggaet pemilih.

Masyarakat yang belum sejahtera merupakan sasaran yang pas, untuk diberikan uang agar dapat merubah pilihannya.

Lalu tidak bisa dipungkiri masyarakat saat ini juga membutuhkan uang karena memang kondisi ekonomi yang sulit saat pandemi, momen pemilu juga menjadi alternatif memperoleh sedikit uang setidaknya untuk membeli makan satu hari. Kondisi itu dimanfaatkan oleh pihak-pihak untuk mempengaruhi pilihan dari calon pemilih.

Dalam politik uang ini juga memiliki dampak buruk, yaitu membuat masyarakat menjadi terbiasa bahwa pilkada adalah ajang untuk saling memberi uang oleh calon, membangun mindset bahwa yang memberi lebih banyak itulah patokan untuk dipilih banyak masyarakat. Jika diawal sudah menggunakan uang tidak bisa dipungkiri selanjutnya menimbulkan korupsi-korupsi baru jika sudah masuk dalam pemerintahan.

Dengan politik uang menghasilkan pemimpin-pemimpin yang tidak berkualitas. Tentunya jika pemilu saja sudah menggunakan uang, maka saat dalam pemerintahan para pemimpin ini jelas korupsi dengan jumlah yang lebih besar untuk menutupi dananya saat pemilu tadi, tidak heran kasus kaus korupsi di Indonesia masih sangat tinggi sampai sekarang.

Praktik politik uang yang ada di Indonesia tentu mencederai asas demokrasi, rakyat sebagai penentu sebuah keputusan negara dengan melalui pilihan vote terbanyak, dengan adanya politik uang maka pilihan dari rakyat bukan murni dari mereka sendiri namun karena iming-iming uang yang akan diberikan untuk memilih calonya.

Di tempat saya sendiri, tidak bisa dipungkiri bahwa dengan politik uang meningkatkan jumlah angka pemilih, jika tanpa uang maka masyarakat sini malam untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Karena dirasa tidak ada untungnya sama sekali, padahal pada kenyataannya pilihan terbanyak dari rakyat  merupakan kunci majunya suatu wilayah, dengan pemimpin yang tepat dapat membangun sebuah daerah dengan baik begitupun sebaliknya.

Apakah politik uang sendiri dapat dihentikan? Cara menghentikannya yaitu dengan mengedukasi para masyarakat akan politik dan pemilu, memberikann inforasi bahwa pemilu merupakan cara masyarakat memulai perubahan dalam daerahnya, oleh karena itu diharapkan semua masyarakat dapat berpartisipasi dan mengawasi jalannya pemilu agar terhindar dari kecurangan.

Masyarakat yang belum sejahtera jelas akan senang dengan adanya politik uang, karena mereka mendapatkan uang ketika pemilu. Tentu golongan masyarakat ini harus diluruskan pemikirannya, bahwa uang tersebut cukup kecil tidak sebanding jika para koruptor menjabat dalam pemerintahan. Memberitahu efek dan dampak dari politik uang, salah satunya yaitu sifat serakah untuk mengembalikan uang kampanye, tentunya hal tersebut merubah fokus dari pemimpin yang sesungguhnya yitu membangun suatu daerah.

Jika pembangunan terganggu, tentunya berefek dalam kesejahteraan masyarakat tersebut, jadi politik uang merupakan salah satu cara agar keluar dari ketidaksejahteraan masyarakat dalam suatu daerah.

Selain itu diperlukan regulasi yang jelas terkait kasus praktik politik uang ini, karena biasanya dalam kasus yang ditangkap hanya pelaku lapangannya saja, padahal jika diselidiki tentunya dalang pelakunya adalah yang paling diuntungkan dalam praktik tersebut, namun dalam catatan belum pernah ada yang ditangkap.

 

Share:

Selasa, 15 Desember 2020

Kompleksitas Kehidupan Manusia dalam Novel Entrok

 



Judul : Entrok

Penulis : Okky Madasari

Ilustrasi dan Sampul : Restu Ratnaningtyas

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : April, 2010

Tebal : 288 halaman

ISBN : 978-979-22-5589

Marni dan Rahayu adalah ibu dan anak  yang lahir dibesarkan dengan latar belakang dan ajaran berbeda. Marni seorang perempuan jawa pada zaman dahulu dengan kepercayaan kepada leluhur hidup miskin, tidak bersekolah dengan harapan hanya memperoleh sesuap nasi setiap hari. Ketika pubertas Marni ingin memiliki bra (entrok), sesuatu barang yang sangat berharga pada saat itu dengan keadaan kekurangan Marni. Dengan keinginannya memiliki Entrok tersebut mengantarkannya pada sebuah perjuangan memperoleh uang, namun pada saat itu perempuan yang bekerja semestinya hanya dibayar dengan bahan makanan, Marni harus menembus ilok gak ilok norma yang berlaku pada saat itu, yaitu bekerja seperti laki-laki menjadi kuli untuk mendapatkan uang.

Manjadi kuli memang yang dibutuhkan hanya tenaga, Marni memutar otak dengan menggunakan uang yang dikumpulkan dari nguli untuk berdagang kecil-kecilan hingga menjadi kaya dengan usahanya. Disisi lain anaknya Rahayu, hidup dengan nyaman hasil kerja orangtuanya dapat bersekolah dengan keprcayaan terhadap Tuhan. Rahayu tumbuh dengan kebencian bahwa ibunya musyrik dan berdosa. Anak dan ibu ini sulit bertemu titik tengah dari ajaran masing-masing yang mereka percayahi, karena diantara keduanya sama-sama merasa benar.

Rahayu disekolahkan ibunya dengan harapan hidupnya akan lebih baik dan menjadi anak pintar, serta dihargai masyarakat. Namun apa yang dilakukan Rahayu dengan kepercayaannya mengantarkannya pada sebuah lingkaran pertemanan yang membuatnya harus berakhir dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang bercap Parta Komunis Indonesia (PKI).

Rahayu yang memiliki agama tidak serta merta dapat menerima perbedaan kepercayaan orang lain yaitu ibunya sendiri. Ia tumbuh sebagai seorang yang religius dengan sikap judgemental terhadap oarang lain, mengkafirkan orang yang tidak sefaham kepercayaan dengannya. Sekolah yang ia jalani memberikan ajaran-ajaran akademis yang membuatnya cerdas, namun tidak diimbangi dengan ajaran untuk memanusiakan orang lain, Rahayu tidak dapat membedakan urusan etika, norma, kemanusiaan dengan berdasar hanya pada dosa yang ia percayai. Terbukti ia lebih memilih durhaka terhadap ibunya karena tak sepaham, namun tidak masalah menikah dengan suami orang.

Pada saat ini juga masih banyak ditemuhi orang-orang yang religius dapat dengan mudah menghakimi orang lain dengan pandangan yang tidak sepaham dengannya, masih ada berita-berita yang menginformasikan kasus-kasus intoleran antar umat beragama. Begitu pula pada dunia pendidikan, lulusan berlomba-lomba menjadi seseorang yang sukses dalam bekerja dengan korporasi, sulit menemukan lulusan yang ingin kembali kepada asalnya dengan melakukan pekerjaan di desa membangun masyarakat.

Novel ini juga mengangkat isu patriarki dan feminisme, jika membaca praktik patriarki pada akhir-akhir ini yang ada adalah dimana wanita tidak diberikan kesempatan untuk memperoleh kesempatan bekerja meraih impian karena larangan suaminya dan tuntutan keluarga. Marni dan Teja adalah gambarn praktik patriarki pada zaman dahulu, dimana perempuan diciptakan untuk memuaskan kebutuhan laki-laki baik lahir dan batin. Teja adalah laki-laki yang pekerjaannya nunut Marni, ia hanya mengantar istrinya bekerja, akan tidak bekerja ketika Marni juga tidak bekerja.

Dengan keadaan Teja seperti itu, ia masih ingin berselingkuh dengan perempuan lain sampai memiliki anak. Kenyataan dari kelakukan Teja tersebut tidak menyebabkan masyarakat menyalahkan laki-laki, namun tetap perempuan menjadi seseorang yang selalu salah dengan tameng " perempuan tidak dapat menjaga penampilan, tidak bisa merawat diri karena kalah cantik dengan selingkuhan suaminya."

Dalam novel ini juga memuat sejarah pada zaman orde baru, saat itu PKI merupakan nama yang mengerikan. Dengan sebutan PKI siapapun dapat diancam, ditangkap, dan dibunuh tanpa pembuktian dan mempertimbangkan Hak Asasi Manusi (HAM). Pemerintah orde baru merupakan pemegang kendali berjalannya kehidupan Indonesia, mereka dapat leluasa mengguankan dan mengekploitasi rakyat Indonesia, dengan ancaman akan dicap sebagai PKI jika tidak sejalan dengan pemerintah.

Sampai saat ini masih terlihat bagaimana orang dengan kuasa atas nama negara dapat menggunakan itu sebagai alat untuk semenah-menah dengan orang biasa, contohnya seperti ketika ada penilangan jika oknum polisi akan dengan mudah membebaskan kembali pengendara dengan adanya uang.

Pada kenyataannya dalam lingkaran masyarakat orang yang memiliki kekuasaan, wewenang, dan pendidikan akan dilihat lebih terhormat dibanding dengan orang yang tak berpendidikan walau secara finansial mapan serta tidak mengganggu orang lain, pandangan seperti ini mungkin dibangun sejak dulu dimana pekerja negara merupakan sosok yang dapat mengatur masyarakat dan dianggap kaum priyayi yang dihormati.

Cerita dalam novel ini memang begitu kompleks, banyak isu yang ingin disampaikan dimulai dengan isu feminis dan patriarki pada zaman dahulu, lalu isu pemerintahan era orde baru, isu kepercayaan dan tak lupa kehidupan dan pola pikir masyarakat setempat yang masih kolot. Novel ini memiliki kelebihan mudah dipahami dengan bahasa mengalir dan ringan. Namun jika dilihat hanya dengan sampulnya lalu tidak membaca keseluruhan novel, mungkin menimbulkan multi tafsir dari orang yang melihat hanya dari sampul, oleh karena itu perlu membaca keseluruhan buku agar mengerti maksud dari novel tersebut.

 

 

Share:

Rabu, 25 November 2020

Industri Gula di Indonesia Tidak Efisien

Kebutuan gula dalam negeri tidak sesuai dengan produksi gula yang mampu dihasilkan. Menurut Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud menyebutkan, kebutuhan gula nasional mencapai 5,9 ton, sekitar 2,8 juta ton untuk konsumsi dan 3,1 juta ton untuk kebutuhan industri. Namun, produksi gbula dalam negeri hanya mencapai 2,2 juta ton, sehingga sisa kebutuhan gua dipenuhi melalui impor.

Kenyataan ini memberikan fakta bahwa nilai impor Indonesia untuk memenuhi kebutuhan gulai mencapai 4 juta ton tahun 2019, jauh diatas impor China yang 3,4 juta ton, Amerika Serikat 2,9 ton, atau Bangladesh 2,3 juta ton. Menempatkan Indonesia sebagai importir gula terbesar di dunia, jika ini tidak diperhatikan maka dapat mengancam kelangsungan industri gula berbasis tebu di dalam negeri.

Ketergantungan impor gula yang dilakukan Indonesia memberikan gambaran betapa seriusnya masalah ini, dengan luas wilayah Indonesia yang relatif besar tidak menjadikan Indonsia mengalami swasembada gula, wacana untuk target swasembada gula ternyata telah diimpikan sejak kepemimpinan Soeharto namun belum pernah terwujud.

Hal ini cukup ironi, padahal dulu Indonesia pada Indonesia pernah menjadi eksportir sekaligus produsen terbesar gula dunia setelah Kuba di era Hindia Belanda, yang jelas pada saat itu Indonesa masih dalam masa penjajahan dan dikendalikan oleh penjajah Belanda. Setelah merdeka Indonesia mewarisi 179 pabrik gula dari swasta Belanda yang kemudian dikelolah oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) perkebunan.

Masalah ini dari tahun ke tahun belum ada penyelesaian nyata dari pemerintah, karena dilihat dari tingkat impor gula yang semakin tinggi karena kebutuhan gula yang tinggi tidak diimbangi dengan produksi gula dalam negeri.

Usaha pemerintah dalam hal ini tentunya tidak bisa bergantung pada gula impor untuk memenuhi angka kebutuhan tersebut, produksi gula dalam negeri harus dipacu agar industri gula di Indonesia efisien, pertama yaitu dari bahan baku yang berasal dari tebu. Dengan luas lahan yang dimiliki oleh Indonesia bongkar ratoon mencapai 75.000 hektar dan rawat ratoon seluas 125.000 hektar.

Luas lahan tersebut perlu dimaksimalkan dengan mengembangkan varietas unggul tanaman tebu, hal ini bisa dicapai jika pengembangan teknologi dan lembaga riset penelitian terkait mendapatkan benih unggul ini perlu menjadi perhatian dari pemerintah. Para peneliti ini memerlukan dukungan agar dapat menciptakan varietas baru tebu yang efisien. Karena negara-negara besar di dunia yang memiliki produksi gula tinggi berasal dari kemajuan teknologi dan penelitiannya.

Pemerintah perlu memperhatikan peneliti-peneliti dalam bidang pertanian Indonesia, agar dapat terus mengembangkan varietas yang unggul setiap tahunnya, tentunya berdampak pada efisiensi produksi lahan. Cukup disayangkan ketika kenyataan lahan yang luas namun tidak didukung dengan varietas unggul dari bibit tanaman tebunya sendiri.

Menurut Ketua Umum Dewan Pembina DPP Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) HM Arum Sabil, mengatakan bahwa Lembaga Riset seperti Pusat Penelitian Gula Indonesia di Pasuruan, varietas tebu sampai hampir 5.000, namun tidak dikelolah para peneliti dibiarkan terlantar, karena sibuk dengan ekonomi saat ini dan dibiarkan. Cukup disayangkan terkait kenyataan ini, padahal jika produksi gula meningkat dan paling tidak dapat menutup kebutuhan gula di Indonesia sendiri, tentunya hal tersebut juga berdampak pada ekonomi di Indonesia.

Lalu wacana dari kementrian yang akan membuka areal lahan baru seluas 50.000 hektar ini juga dapat menjadi cara untuk meningkatkan produksi gula maka lahan ini harus sepenuhnya digunakan secara maksimal dan efisien.

Jika target produksi gula dapat meningkat, maka selanjutnya yaitu cara bagaimana menjaga kestabilan harga gula produksi BUMN agar dapat persaing dengan swasta. Pabrik gula BUMN perlu belajar dari pabrik gula milik swasta yang dapat menjaga harga gula antara Rp 5.000 – Rp 6.000 perkilogram hingga mampu bersaing di level global.

Lalu Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) sekaligus Wakil Menteri Perdagangan periode 2011 – 2014 Bayu Krisnamurthi berpendapat, selisih gula berbasis tebu di Indonesia dan gula impor memiliki angka selisish yang relatif besar yaitu mencapai Rp 4.000 – Rp 4.500 per kilogram, memberikan fakta tidak efisiennya pabrik gula di dalam negeri, sehingga menyebabkan tingginya biaya produksi yang berdampak pada harga gulanya sendiri. Kenyataan ini memicu rembesan gula rafinansi ke pasar gula konsumsi sehingga turut menekan harga di tingkat petani tebu.

Cukup disayangkan produksi dalam negeri yang membutuhkan usaha dan waktu yang lebih besar karena keterbatasan teknologi, sehingga otomatis memperbesar biaya produksi, namun petani harus mengalami harga anjlok di pasaran. Posisinya yang lemah menyebabkan petani hanya sebagai penerima harga saja di pasaran.

Tercatat pada saat lelang pertama di lingkungan PT Perkebunan Nusantara XI, 12 Juni 2020, misalnya, 3.905 ton gula laku antara Rp 10.610 – Rp 10.710 perkilogram. Hal ini tentu tidak seimbang dengan harga produksi dan tenaga yang dikeluarkan oleh petani gula. Tentu ini berkaitan dengan regulasi pemerintah yang melonggarkan aturan impor.

Pemerintah memang pada akhir-akhir ini sering impor gula, harga gula dari luar memang relatif lebih murah namun karena hal tersebut akhirnya banyak masyarakat lebih memilih gula impor daripada gula yang berbasis tebu dari petani, yang secara tidak langsung membunuh petani dengan perlahan dan menekan industri gula di Indonesia. Kebijakan yang jelas dan komprehensif juga dibutuhkan dalam masalah ini, untuk membantu para petani tebu dan industri gula Indonesia tetap produktif dan tidak kalah saing dengan gula impor.

Share:

Dari Ngalian ke Sendowo

 



Judul Buku : Dari Ngalian ke Sendowo

Penulis : Nh. Dini

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun : 2015

Tebal : 268 halaman

ISBN : 978-602-03-1651-2

Buku ini bercerita tentang perjalanan penulis dimasa tuanya yaitu  Nurhayati Sri Hardini atau biasa disebut dengan Nh Dini, ia merupakan penulis yang masih aktif berkarya diusia senjanya. Dengan kemandiriannya ia berangkat dari satu tempat ke tempat lain untuk mendatangi undangan.

Buku ini berjudul Dari Ngalian ke Sendowo, karena menceritakan proses hijrah Nh Dini, dari rumahnya di Ngalian Semarang sampai ke Sendowo Yogyakarta, tepatnya di wisma berisi lansia atau biasa disebut panti jompo.

Di usia senjanya Nh Dini masih aktif menulis dan membagi ilmunya untuk banyak orang, ia telah mendapat banyak penghargaan atas karya-karyanya. Diundang mengambil penghargaan baik di dalam maupun luar negeri, meski diawal ia memiliki idealis tidak mau datang namun akhirnya runtuh juga. ia akhirnya mau menghadiri perayaan-perayaan penghargaan untuk dirinya tersebut.

Nh Dini tinggal seorang diri di rumahnya Ngalian Semarang memiliki pondok baca dan aktif dalam Rotary Club. Di rumahnya ia tinggal bersama oembantu dan anak-anak asuhnya di pondok baca untuk membantu keperluan Nh Dini, dan juga membantu merawat pondok baca.

Di usia tuanya ia masih harus mencari uang untuk bertahan hidup dan mengurus kelanjutan pondok bacanya, karena faktor usia ia sering mengalami kelemahan fisik dan sakit. Namun karena memang Nh Dini seorang penulis terkenal ia dapat bantuan dari beberapa rekan dan sanak saudaranya, beberapa kali ia beruntung mendapat bantuan tersebut karena memang ia mengaku juka kesulitan dalam hal ekonomi.

Hingga pada suatu ketika ia telah merasa lelah dengan rumahnya yang besar, dan perlu perbaikan berkala setiap tahun, ditambah biaya pembantu-pembantunya. Maka ia memutuskan untuk menjual rumahnya dan pindah ke wisma yang berisi lansia atau disebut panti jompo.

Buku ini memberikan gambaran bagaimana nasib penulis yang ada di Indonesia, terlihat bagaimana pemerintah kurang memperhatikan para pekerja seni ini. Mereka tidak mendapat uang jaminan kehidupan ataupun uang jaminan kesehatan, sebagai penulis ia hanya mengandalkan upah penjualan buku dan juga honorariumnya ketika diundang mengisi acara.

Sampai, ia sempat dicap sebagai penulis yang memasang tarif, dulu Nh Dini merupakan sosok penulis tulus dan idealis namun karena tekanan kehiudpan dan membutuhkan uang ia menjadi seperti itu. Ia mengaku tidak malu, dan menganggap itu suatu kejujuran dan penghargaan kepada para penulis.

Dalam buku ini juga berisi sindiran dari Nh Dini atas keprihatinanya dengan rendahnya literasi masyarakat Indonesia, dalam kejadian ketika Nh Dini ditawari promosi pada surat kabar dan menolaknya karena dengan honorarium rendah. Ia merasa promosi di surat kabar adalah sia-sia ketika minat literasi atau baca masyarakat rendah, sehingga otomatis yang melihat promosi tersebut hanya sedikit orang saja.

Selain itu, perjalanan Nh Dini ketika diundang berbagai negara untuk menerima penghargaan juga memperlihatkan kontradiksi bagaimana sastra dan bahasa Indonesia dihargai, di Indonesia sendiri penghargaan masyarakat terhadap penulis, sastra dan bahasa Indonesia memang kurang diperhatikan bertolak belakang dengan bagaimana orang asing atau luar Indonesia melihat bahasa kita.

Di Jepang sampai ada fakultas sastra yang memasukkan mata kuliah bahasa Indonesia sebagai muatan wajib, yang dipelajari yaitu dari mulai mendasar hingga level tinggi, tentu ini dapat menjadi cerminan untuk kita semua sebagai warga Indonesia agar lebih menghargai bahasa kita sendiri juga dengan karya sastra dari sastrawan Indonesia yang mendunia dan dibanggakan oleh orang luar.

 

Share:

Rabu, 18 November 2020

Belum Meratanya Akses Kesehatan di Indonesia

 

Pelayanan kesehatan yang memadahi merupakan kewajiban yang harus didapat setiap warga negara Indonesia. Semua masyarakat baik dengan perekonomian kebawah dan keatas berhak atas itu, selain itu juga masyarakat kota hingga daerah terpencilpun juga memiliki hak atas akses kesehatan yang berkualitan, karena sama-sama warga negara Indonesia.

Program kesehatan yang terlihat ketimpangan yaitu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Kartu Indonesia Sehat, dilihat dari survei Komnas Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dengan 1.200 responden. Dalam survei tersebut menghasilkan 72,4 persen responden menyatakan mudah mencapai fasilitas kesehatan dari program JKN. Disisi lain, masih ada 19,8 persen responden yang mengaku masih kesulitan mencapai fasilitas kesehatan. Kesulitan makin tinggi pada wlayah Indonesia bagian timur

Tentu saja hal ini harus diperhatikan oleh pemerintah, agar dapat memeratakan akses kesehatan bagi warga Indonesia dimanapun berada. Kesehatan yang baik dibutuhkan semua orang, jika fasilitas kesehatan tidak merata maka menurunkan produktifitas daerah tersebut. Bayangkan jika harus ada orang di daerah bagian timur meninggal begitu saja sebelum perawatan. Selain itu, pelayanan kesehatan yang baik juga meningkatkan kesehatan ibu dan anak ketika proses melahirkan, tentu saja dapat membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang lebih baik.

Masyarakat Indonesia bagian timur juga meresahkan ketidakpastian adanya tenaga kesehatan, baik dari dokter, perawat, dan bidan. Terhitung ada 43.8 persen tidak menentu dan 31,3 persen selalu ada tenaga kesehatan.

Selain fasilitas yang baik, tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan warga. Mereka ini yang memiliki ilmu dan pengalaman sangat dibutuhkan untuk dapat mengobati dan menyembuhkan orang dengan tepat. Hasil survei ini dapat dijadikan evaluasi pemerintah untuk menambah tenaga kesehatan, terutama yang mau ditempatkan di Indonesia bagian manapun.

Salah satu cara pemerintah untuk menambah tenaga kesehatan yaitu, dengan mempermudah semua masyarakat yang memiliki kecerdasan dan rasa ingin belajar tentang kesehatan. Tidak bisa dipungkiri biaya pendidikan dokter tidak murah. Pemerintah bisa membantu anak berprestasi untuk memperoleh pendidikan dokter dari ekonomi rendah. Selain itu memberikan tunjangan yang lebih kepada tenaga kesehatan lain seperti perawat dan bidan.

Tidak cukup hanya itu, ketersediaan obat serta alat kesehatan juga harus ditingkatkan agar saling melengkapi. Mengingat semua masyarakat juga memiliki kewajiban membayar iuran sama besar, tentu fasilitas kesehatan yang berkualitas wajib dirasakan semua masyarakat.

Perbedaan beban pungutan masih terjadi, terlihat dari survei setidaknya 34,4 persen responden di wilayah Indonesia timur terkena biaya pungutan ketika mengakses JKN-KIS. Lalu sebanyak 55,8 persen responden menyatakan fasilitas yang bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Nasional (BPJS) Kesehatan masih terbatas, hal itu dikarenakan prosedur pendaftaran dan pembayaran iuran yang masih sulit.

Prinsip jaminan kesehatan yang dijalankan pemerintah ini, yang berupa asuransi kesehatan diharapkan dapat membantu semua kalangan masyarakat agar mendapat fasilitas kesehatan yang sama. Karena semuanya membayar iuran setiap bulan baik sehat maupun sakit, tentu dengan iuran tersebut semua masyarakat harus mendapat fasilitas kesehatan yang baik ketika sakit karena mereka juga memerlukan usaha dalam pembayarannya.

Pemerintah perlu membangun rumah sakit di daerah-daerah terpencil karena tidak bisa dengan mengharapkan rumah sakit swasta akan membangun rumah sakit di daerah terisolir karena berorientasi pada bisnis, ini merupakan kesadaran pemerintah sendiri, untuk membantu warganya.

Jika telah dibangun rumah sakit, pelayanan dari tenaga medis pun juga harus ditingkatkan. Dari cara memperlakukan pasien, hingga penanganannya. Masih banyak berita penolakan dari rumah sakit karena tidak memiliki biaya, ataupun sulitnya mengakses BPJS. Jangan sampai ada lagi berita-berita terkait penelantaran pasien oleh rumah sakit. Karena sakit sudah susah lalu ditambah aksek kesehatan yang rumit.

Pemerintah harus sadar akan luasnya negara Indonesia yang berbentuk banyak kepualauan, setidaknya ditingkatkan aksen penyaluran informasi agar informasi terkait kesehatan lebih cepat dan segera ditangani. Memanfaatkan teknologi dengan maksimal, dangan mengusahakan penggunaan teknologi di Indonesia dapat menjadi penunjang pelayanan kesehatan. Didalam teknologi, seperti internet kita semua dapat mengakses wawasan terkait kesehatan dengan mudah. Disini peran pemerintah yaitu meningkatkan kualitas jaringan untuk semua daerah.

Populasi di Indonesia merupakan 4 terbesar di dunia, disayangkan jika pelayanan dan kesadaran kesehatan rendah. Salah satu masalah dari populasi ini yaitu kasus stunting di Indonesia masih tinggi. Bedasarkan data riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2019, angka stunting di Indonesia mencapai 30,8 persen. Sementara target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka stunting tidak boleh lebih dari 20 persen.

Jika kesadaran masyarakat tinggi akan informasi kesehatan serta pelayaanan kesehatan ditingkatkan maka hal itu tentu dapat menurunkan angka stunting. Percuma saja dengan banyak populasi tapi tidak diimbangi dengan tingginya kualitas SDM. Stunting sendiri berasal dari polah asuh dan pemberian gizi.

Karena tidak bisa dipungkiri pemerintah masih belum detail dalam melihat kebutuhan masyarakat sampai dengan kualitas gizi mereka. Padahal dampak stunting sendiri yaitu menyebabkan, rendahnya kecerdasan anak dibawah rata-rata, sistem imun tubuh yang tidak baiuk, dan anak beresiko tinggi menderita penyakit diabetes.

Stunting menyebabkan banyak masalah kesehatan, jika dari awal pemerintah memperhatikan ini maka bisa dipastikan kesehatan masyarakat Indonesia lebih berkualitas.

 

Share:

Selasa, 17 November 2020

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Ironi Perkelaminan Manusia

 



Judul Buku                          : Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas

Penulis                                 : Eka Kurniawan

Penerbit                                : PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN                                    : 978-602-03-0393-2

Tebal                                     : 243 halaman

Tahun Terbit                          : 2014

Berawal dari keisengan dua bocah yang baru memasuki usia baliq, yaitu Si Tokek yang mengajak Ajo Kawir melihat rumah seseorang perempuan gila bernama Rona Merah. Dua bocah tersebut awalnya ingin melihat tubuh perempuan tersebut ketika mandi dengan mengintip di salahsatu lubang rumahnya, namun tiba-tiba datang dua polisi menyetubuhi perempuan gila tersebut yang membuat Si Tokek dan Ajo Kawir kaget. Kemudian tiba-tiba Si Tokek terpleset dan jatuh, menyebabkan pengintipan mereka diketahui dua polisi tersebut.

Si Tokek berhasil melarikan diri dan sempat sembunyi, namun Ajo Kawir tertangkap polisi tersebut lalu dimasukkan ke rumah Rona Merah. Ajo Kawir dipaksa melepaskan celananya dan secara paksa oleh kedua polisi itu Ajo Kawir disuruh menyetubuhi Rona Merah, sejak saat itu Ajo Kawir mengalami impoten, dalam buku tersebut disebutkan burungnya tidur dan tak mau bangun.

Selama burungnya tidur Ajo Kawir telah melakukan berbagai cara untuk membangunkannya dari cara masuk akal hingga tidak masuk akal tapi semua hasilnya nihil, burungnya tetap terlelap dan tak mau bangun. Hingga Si Tokek memberikan motivasi dengan mengatakan, jika burungnya pun bangun maka belum tentu akan digunakan untuk perempuan. Perkataan Si Tokek sedikit melegakan Ajo Kawir hingga akhirnya dapat menerima dan berhenti memaksanya bangun.

Dengan kekurangannya itu setiap kesal ia mencoba melampiaskannya dengan berkelahi, dengan siapapun yang apes ketemu Ajo Kawir karena ia selalu mecari gara-gara. Hingga pada suatu ketika ia harus berkelahi dengan perempuan yaitu Iteung. Iteung telah membuat Ajo Kawir jatuh cinta, begitupun Iteung namun Ajo Kawir mencoba menghindar dengan menolak cinta Iteung karena merasa tidak bisa memberikan Iteung kepuasan dalam pernikahan dengan kekurangan burungnya.

Namun ternyata tak disangka Iteung ternyata mau menerima Ajo Kawir dengan kekurangannya lalu menikah, namun pernikahannya tersebut tidak semulus janji Iteung karena ia malah hamil yang jelas bukan anak dari Ajo Kawir.

Cerita dalam novel ini merupakan alegori kehidupan manusia, saya melihat manusia merupakan objek dari berjalannya kehidupan. Manusia tidak mengerti nasibnya dikemudian hari, apa yang mereka inginkan dengan apa yang mereka dapat pun diluar kehendak manusia.

Seperti Ajo Kawir, ia tidak menyangka bahwa hal yang ia anggap nikmat kemudian hilang begitu saja karena burungnya tak mau bangun, ia banyak belajar dari burungnya tentang hidup. Ketika ia sangat memaksa burungnya bangun, dan meluapkan kekesalan dengan hal negatif burungnya tetap tidur tak mau bangun, hingga suatu kejadian yang membuatnya sadar ketika diselingkuhi istrinya kemudian membunuh orang lalu dipenjara.

Dalam pesakitannya di penjara ia belajar tentang ketenangan dan menerima kenyataan, ia sudah ikhlas dengan keadaan burungnya dan berhenti mencari gara-gara dan mulai menjalani hidup sebagai supir truk dengan benar dan mencari ketenangan. Ketika itu bertemu Jelita, Jelita yang saya lihat ialah respresentasi dari nikmat yang diberikan kepada manusia namun disepelekan seperti kesehatan, pikiran tenang, dan hidup aman karena manusia biasanya terlalu fokus terhadap materi seperti harta kekayaan. Jelita memang buruk rupa, namun ia mampu membangunkan burung Ajo Kawir, disaat ia sudah mulai menerima hidup. Dalam kasus Ajo Kawir dan Jelita saya setuju kata-kata, disaat manusia bersyukur maka akan ditambah nikmatnya.

Di dalam buku ini juga memberikan pelajaran terkait perempuan dan laki-laki. Seperti pada saat polisi melakukan pelecehan terhadap Rona Merah, memang Rona Merah gila tapi tidak seharusnya mendapatkan hal tersebut. Ia juga berhak dihargai seperti perempuan pada umumnya. Ini sekaligus memberi tahu kebobrokan kaum laki-laki tanpa peduli dengan siapa jika sudah birahi maka melakukan segala cara untuk melampiaskan tidak peduli dengan seseorang perempuan gila.

Seperti dalam salah satu teks di buku ini yaitu, Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang abnyak bisa dilakukan kepala.

Tentang kasus kebutuhan sex antara perempuan dan laki-laki Eka dalam bukunya ini, penggambarannya seimbang tidak hanya menyudutkan kaum laki-laki. Begitupun perempuan juga memiliki hawa nafsu dan kebutuhan birahi yang harus dipenuhi. Seperti Iteung sebagai istri Ajo Kawir yang tidak bisa memberikan pelayanan dengan maksimal ia melampiaskan itu dengan berselingkuh dan mencari kenikmatan dari laki-laki lain. Tentu ini merusak norma pernikahan sebagai pasangan yang dapat menerima apapun keadaan suaminya, Iteung juga mengingkari janji kepada Ajo Kawir terkait dapat mencintai sepenuhnya walaupun impoten. Tapi malah dirusak dengan kelakuannya sendiri.

Walapun sama-sama mau Iteung juga meliki keegoisan tinggi dan play victim ketika ditinggal Ajo Kawir. Ia tidak memperbaiki kelakuan dan membesarkan anaknya dengan baik malah membunuh selingkuhannya yang menyebabkan ia harus dipenjara dan tidak bisa bersama anaknya.

Kehidupan manusia memang begitu kompleks dengan segala keinginan dan permasalahan yang harus dihadapi, perihal itu juga manusia tidak dapat mengontrol semua yang harus terjadi dalam hidupnya, karena semua kejadian tersebut berjalan dan terjadi begitu saja, manusia hanya bisa memberikan respon entah dalam hal posotif atau negatif dalam menghadapi setiap kejadian baik maupun buruk.

 

Share:

Rabu, 11 November 2020

Tumpul ke Atas, Tajam ke Bawah




Judul              : The Trial PROSES

Penulis           : Franz Kafka

Penerjemah    : Sigit Susanto

Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN              : 978-602-03-2895-9

Tebal              : 261

Tahun             : 2016 (Cetakan I)

 

Novel ini berawal langsung ke tema cerita tanpa diberi pengenalan, yaitu diceritakan ketika seorang manajer bank bernama Josef K, didalam novel ini disebut dengan K. K tiba-tIba ditangkap dan diajukan ke pengadilan tanpa menjelaskan alasan kesalahannya ditangkap.

Selanjutnya K harus ke pengadilan. Namun, ketidakjelasan semakin terlihat dari mulai K menuju ke pengadilan, alamat tidak jelas dan setelah sampai di pengadilan respon orang-orang didalamnya aneh mereka bersama tepuk tangan untuk K.

K membuka keburukan petugas yang ada di pengadilan yang menyebabkan mereka mendapat hukuman, petugas tersebut yaitu Franz dan Wilhem diberikan hukuman cambuk karena kesalahannya.

Pengadilan K dalam cerita ini berjalan begitu panjang dan tidak jelas, K pun bosan dengan perkembangan kasusnya yang memang tidak ia ketahui. Pelarian K yaitu ia mengunjungi bar dan bertemu banyak gadis, menjalin dengan empat perempuan yaitu Fraulein Burstner, istri penjaga di pengadilan, Elsa pegawai bar dan Leni.

Di akhir cerita ada cerita pendek dari penulis yang berjudul Di Depan Hukum, cerita ini disampaikan penulis lewat percakapan pendeta dengan K. Dalam cerita memberikan gambaran suatu sistem hukum serta menyindir penerapan hukum saat ini.

Diceritakan ada orang desa yang ingin memasuki pintu yang memiliki penjaga, pintu tersebt merupakan gerbang masuk yang menurut interpetasi saya yaitu suatu hukum yang di idam-idamkan oleh kebanyakan orang yaitu adil, jelas dan tidak berpihak, tentunya ini ditujukan untuk semua orang tanpa memandang apapun.

Namun, dalam kenyataanya dalam cerita pendek tersebut orang desa tidak diberikan akses masuk oleh penjaga, dalam cerita pendek juga disebutkan  bahwa penjaga tidak mengizinkan masuk karena ia telah diperintahkan oleh atasannyayang memiliki lebih tinggi kedudukan dan pengaruhnya, namun disisi lain si penjaga masih memberikan harapan dikemudian hari orang desa tersebut dapat memasukinya tapi tidak jelas entah kapan.

Dari cerita novel ini menggambarkan sistem hukum sekarang, dari cerita K mulai penangkapan dan pengadilannya. Membuat pembaca mengerti bahwa tidak semua orang yang dipenjara atau diadili jelas-jelas memiliki kesalahan, hukum bukanlah suatu produk yang sempurna. Memang terlihat jelas peraturan-peraturan dalam hukum memiliki tujuan yang baik agar semuanya yang ada dalam hidup berjalan sesuai ada sebab akibat.

Pada kenyataannya dalam pelaksanaannya hukum tidak sebaik itu, hal ini dikarenakan oleh orang-orang yang sebagai penegak aturan hukum tidak menjalankan dengan semestinya.

Begitu pula dalam cerita pendek yang ditulis Kafka diakhir cerita yang berjudul didepan hukum, memberikan pembaca suatu kesadaran bahwa hukum memang tumpul ke atas tajam ke bawah, karena orang yang memiliki kedudukan dan pengaruh lebih bisa mengontrol hukum seperti penjaga yang lebih memilih untuk tidak membukakan pintu karena memang ditugaskan oleh atasannya yang lebih memiliki pengaruh.

Orang desa yang memang notabennya orang biasa tidak semudah itu memiliki akses pintu itu yaitu sebuah sistem hukum yang adil, seperti pada kasus-kasus yang ada di Indonesia ketika ada orang mencuri untuk makan serta melanjutkan hidup malah dihukum dan diadili atas tindakan salahnya.

Disisi lain ketika kita melihat kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh petinggi pemerintahan, hukuman yang mereka dapatkan sungguh ringan atau bahkan kebal hukum dibanding kerugian yang ditimbulkan yaitu menghabiskan uang negara dari hasil kerja keras rakyat untuk membayar pajak.

Namun cerita dari penjaga pintu yang masih memberikan harapan suatu hari kelak akan membukakan pintu untuk orang desa, seperti menggambarkan hukum masih memberikan gambaran-gambaran baik untuk diluarnya pencitraan dalam hukum masih ada walaupun pada kenyataannya tidak seindah itu.

Buku ini memang memiliki kerumitan tersendiri, dari mulai pengenalan tema dan penokohan. Cukup lelah untuk menyelesaikan buku ini dengan layout paragraf yang sangat panjang. Namun cerita yang dibawa buku masih relevan untuk dibaca sebagai cermin penerapan hukum di Indonesia.

Share:

Selasa, 10 November 2020

Merayakan Perpisahan

Selamat yaa...


Atas pencapaianmu hari ini

Maaf tidak sempat mengucap selamat ketika hari kelahiranmu

Karena memang saat itu aku tidak baik-baik saja

Setiap hari aku masih berusaha mencari alasan

Untuk dapat benar-benar menganggapmu bukan siapa-siapa lagi

Maafkan aku yang tidak bisa hadir disaat kau meraih satu-persatu pencapaianmu

Hmmm karena memang aku bukan keinginanmu

Tapi disamping itu aku tetap merasa tenang

Keluargamu masih selalu ada untuk mendukung dan sebagai tempatmu pulang

Sekarang sambut masa depan indahmu dengan atau tanpa aku

Memang aku sempat memiliki harapan untuk dapat bersamamu melewati hari-hari beratmu

Atau tersenyum paling bahagia ketika engkau memperoleh pencapainmu

Namun harapan sekedar harapan sampai kekecewaan itu datang

Terima kasih

Maaf jika semua ini masih belum jelas

Bukan aku ingin mempersulit tapi kamu yang membuat ini semakin tidak jelas
Share:

Jumat, 26 Juni 2020

TUGAS JURNALISTIK 2


Polemik Kebijakan Belajar dari Rumah
Oleh: AMELIA AL KHUMAYRO

           Saat ini penerapan normal baru di Indonesia sedang dijalankan sebagai upaya untuk memulihkan ekonomi. Namun, disisi lain penyebaran dari Covid-19 masih tinggi, dengan adanya peningkatan kasus baru dari virus ini. Oleh karena itu menteri Pendidikan Nadiem Makariem telah menyiapkan skema model baru pendidikan pada tahun ajaran 2020/2021. Prinsip dari kebijakan pendidikan saat masa pandemi ini yaitu dengan mengutamakan kesehatan serta keselamatan dari pendidik maupun siswa. Kebijakan ini diatur untuk pendidikan anak usia dini hingga pendidikan tinggi.
Kebijakan ini membagi daerah menjadi beberapa zona berdasarkan data kasus Covid-19, untuk pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan menengah menerapkan beberapa pola pembelajaran. Untuk daerah yang termasuk zona kuning, oranye, dan merah dilarang melakukan pembelajaran langsung tatap muka maka tetap akan melanjutkan Belajar dari Rumah (BDR). Untuk daerah yang berada ada zona hijau peserta didik dapat melakukan pembelajaran tatap muka secara bertahap. Lalu kebijakan pembelajaran untuk perguruan tinggi yaitu semua zona masih melanjutkan pembelajaran secara daring dari rumah. Baik mata kuliah teori maupun mata kuliah praktik tetap dilakukan secara daring.
Kebijakan ini terbentuk berasal dari penyesuaian kondisi saat ini, yaitu dengan adanya pandemi Covid-19 sebagai langkah untuk menekan jumlah kasus virus disaat penerapan normal baru. Tentu kebijakan ini tidak pernah diduga serta disiapkan sebelumnya oleh berbagai instansi pendidikan dari mulai TK hingga perguruan tinggi, tidak semua sekolah maupun perguruan tinggi siap. Banyak kendala dengan adanya kebijakan tersebut. Dari mulai hal teknis, kompetensi pengajar, hingga psikis dan produktifitas dari pelajar atau mahasiswa. Keefektifan dari kebijakan ini masih dipertanyakan.
Untuk lingkup perguruan tinggi masih saja ada kendala dan pembelajaran daring belum sepenuhnya efektif. Sesuai dengan pengalaman saya selama menjalani perkuliahan daring untuk semester dua ini.Untuk universitas tempat saya menempuh pendidikan sekarang yaitu, prodi Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang memang pada sistem pembelajaranya hanya untuk langsung dan tatap muka belum ada platform digital sendiri, ketika harus belajar jarak jauh maka menggunakan media yang umum biasa digunakan bukan khusus dari kampus seperti, zoom. goggle meet, schoology dll, dimana terkadang memang sudah ada kampus yang telah memiliki sistem pembelajaean jarak jauh dan telah memiliki platform sendiri. Kendala pun jelas ada. Karena memang hal ini belum disiapkan sebelumnya.
Materi yang disampaikan jelas tidak sepenuhya dapat dipahami, mengingat terkadang perkuliahan tatap muka langsung saja masih ada bingung dan kurang paham, apalagi sekarang daring. Ditambah, pada prodi saya memiliki mata kuliah yang lebih banyak praktek. Sulit memang jika harus daring, ditambah tidak semua mahasiswa memiliki fasilitas yang memadahi untuk mengikuti perkuliahan. Seperti permasalahan kuota dan fasilitas untuk mengikuti materi seperti perangkat gawait maupun komputer. Ditambah lagi masalah jaringan ketika rumah mahasiswa berada di daerah yang minim sinyal. Tapi, pandemi ini tak kunjung selesai, sehingga perkuliahan daring untuk sekarang menjadi solusi darurat.
Hal ini tentu berdampak pada kondisi psikis peserta didik, dimana semua beralih pada pembelajaran daring yang dapat menyebabkan adiksi internet. Karena ketika harus di rumah saja aktualisasi diri paling gampang yaitu dengan internet. Saat pandemi semua beralih menjadi daring, hal ini dapat menimbulkan rasa keteregantungan karena ketika di luar rumah semuanya beralih daring, tak jarang menimbulkan beberapa kasus kecemasan karena keseringan menggunakan internet. Karena didalamnya terdapat banyak arus informasi yang begitu deras.
Dalam buku Psikologi Komunikasi karya Jalaluddin Rahmat pun juga dijelaskan bahwa adiksi internet menyebabkan adanya masalah, salah satunya yaitu Withdrawal bila sesorang dihentikan dari internet makan akan muncul kecenderungan untuk melakukan hal negatif seperti gelisah berlebihan, cemas, hingga abusive. Seperti yang saya alami ketika menjalani kuliah daring, memang diawal pasti merasa senang ketika dapat pulang bertemu keluarga dan belajar di rumah. Tapi rasa itu hanya sementara, ketika semua materi virtual, kebingungan akan mata kuliah namun sulit diungkapkan secara langsung. Kebingungan semakin menumpuk dengan adanya materi mata kuliah lain. Saya setiap hari dengan gawai dan komputer, tentu ini bukanlah sesuatu yang baik untuk kesehatan. Setiap hari terbiasa dengan gawai menyebabkan adiksi internet. Saat di rumah tanpa internet atau gawai terasa sangat tidak nyaman.
Gangguan tidak hanya berasal dari diri sendiri melainkan juga faktor dari luar, keluarga yang kurang memahami kondisi anak yang sedang belajar dari rumah. Banyak pekerjaan rumah menumpuk serta tugas kuliah. Ini merupakan permasalahan umum dialami oleh mahasiswa yang sedang menjalankan kuliah daring, ditambah sensasi rumah yang berasa untuk istirahat dan bersenang-senang. Menambah setres pikiran, karena untuk senang-senang bersama keluarga diganti dengan mengerjakan tugas. Namun, virus ini tak kunjung usai di Indonesia.
Menteri pendidikan Nadiem Makariem pun membuat kebijakan, bahwa belajar dari rumah ini akan dilakukan oleh perguruan tinggi sampai semester depan, hal ini menimbulkan pro kontra. Apakah kebijakan ini dirasa efektif atau tidak, ketika masih banyak permasalahan yang terjadi dan pemberian materi yang tidak maksimal. Disisi lain dengan pandemi ini juga tak bisa diabaikian mengingat jumlah pasien yang semakin bertambah, dilansir dari kompas.com tercatat 26 Juni 2020 kurang lebih 51.427 kasus terkonfirmasi Covid-19 di RI. Tentu normal baru yang dibuat pemerintah, masih belum normal. Karena masih banyak daerah yang menjadi zona merah dari virus ini.
Belajar dari rumah saat pandemi memang dapat menjadi solusi, agar para pelajar dan mahasiswa dapat tetap produktif walau hanya di rumah. Namun, niat yang baik ini jangan sampai menjadikan beban fisik maupun mental saat belajar dari rumah. Kebijakan ini harus mampu memahami kondisi dari geografi daerah, psikis, dan ekonomi para pelajar dan mahsiswa serta kompetensi dari pengajar saat melakukan pemberian materi secara daring. Disaat seperti ini, semua orang memiliki kecemasan yang lebih tinggi dari biasanya karena efek dari adanya pandemi. Belajar dari rumah semoga tidak menjadi beban oleh pengajar serta peserta didik, sebagai cara untuk melawan pandemi virus Covid-19.

Nama              : Amelia Al Khumayro
NIM               : 190531100118

Referensi:
Rakhmat, Jalaludin. 2015. Psikologi Komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama     Media.






Share:

Selasa, 23 Juni 2020

TUGAS JURNALISTIK 1


Persiapan PPDB SMPN 2 Kutorejo Saat Pandemi Covid-19


Oleh AMELIA AL KHUMAYRO 


Mojokerto – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Mojokerto akan dilmulai pada 29 Juni 2020.  Menurut Rifai, selaku guru dan panitia PPDB SMPN 2 Kutorejo, menjelaskan bahwa semua proses pendaftaran akan dilakukan secara online, karena adanya pandemi Covid-19, PPDB tahun ini Sekolah telah menyiapkan fasilitas untuk protokol kesehatan serta siswa tidak dapat mengikuti simulasi pada 26 Juni 2020 langsung di Sekolah untuk menghindari kerumunan (23/6/2020).

“PPDB tahun ini semua dilakukan secara online dan Sekolah telah menyiapkan fasilitas untuk melaksanakan protokol kesehatan, serta untuk murid tahun ini tidak dapat melakukan simulasi di Sekolah agar dapat menghindari kerumunan,” ungkapnya.

Rifai juga menambahkan bahwa, pihak SMPN 2 Kutorejo telah memberikan sosialisasi PPDB kepada guru SD, karena jika ada murid yang mengalami kesulitan dapat menghubungi gurunya masing-masing. Lalu untuk tahap verifikasi dan validasi (verval) data diri calon siswa 17-23 Juni sebagai syarat mengambil formulir pendaftaran juga dilakukan oleh guru SD.

“Pihak sekolah sebelumnya telah memberikan sosialisasi pada guru SD untuk memberikan pemahaman kepada murid yang kesulitan, lalu untuk saat ini masih dalam tahap verval data diri calon siswa sebagai syarat mengambil formulir pendaftaran yang dilakukan guru SD masing-masing sekolah,” tambah Rifai.

Menurut keterangan Fira, calon siswa SMPN 2 Kutorejo. Menjelaskan bahwa, pihak gurunya belum memberikan penjelasan terkait PPDB, rencananya sosialisasi diberikan saat sebelum simulai pada 26 Juni.

“Untuk saat ini masih belum ada pemberitahuan terkait PPDB, rencananya pihak sekolah saya akan memberikan sosialisasi pada tanggal 26 Juni sebelum simulasi,” ungkapnya saat diwawancarai via whatsapp (23/06).


Amelia Al Khumayro - 190531100118

Share:

Rabu, 29 April 2020

Ketika Kuliah Harus di Rumah


Saat ini penyebaran virus Covid-19 telah menjangkit ke seluruh daerah di Indonesia. Semua daerah telah menjadi zona merah, beberapa  telah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), tanggal 28 April 2020, Surabaya telah memberlakukan PSBB selama 14 hari sampai 11 Mei 2020, berdampak pada ditutupnya semua akses mobilitas keluar masuk daerah tersebut, untuk menekan penyebaran virus Covid-19. Mengingat Surabaya menjadi tempat penyebaran terbanyak dengan 392 pasien positif Corona, 1.056 Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan 2.365 Orang Dalam Pengawasan (ODP).
Otomatis akses transportasi ke Madura harus ditutup. Mahasiswa luar Madura pun tidak bisa kembali ke kampus untuk sekarang ini. Dikeluarkanlah Surat Edaran (SE) Rektor Universitas Trunojoyo Madura (UTM) untuk perpanjangan kuliah daring yang awalnya sampai 30 April 2020 menjadi 26 Juni 2020. Hal ini menimbulkan pro kontra dikalangan mahasiswa, apakah dengan menambah perpanjangan kuliah daring ini efektif atau menimbulkan permasalahan lain.
Dilihat dari situasi penyebaran Covid-19 saat ini, tidak memungkinkan untuk kuliah tatap muka seperti biasa, perpanjangan kuliah daring dinilai efektif untuk menekan penyebaran. Dimana dengan kuliah daring tidak perlu ada kontak langsung antara dosen dan mahasiswa, untuk menerapkan social distancing  mengingat begitu mudahnya penyebaran dari virus ini, dengan kuliah daring dapat mengantisipasi penyebaran Covid-19 di lingkungan kampus.
Disisi lain dengan kuliah daring, mahasiswa harus memiliki beberapa fasilitas pendukung untuk dapat mengikuti kelas dari mulai android yang mumpuni atau komputer dan untuk mengakses dibutuhkan kuota internet, namun tidak semua dari mahasiswa memiliki fasilitas itu, sehingga menghambat jalannya kuliah daring.
Beberapa mahasiswa mengeluhkan tidak efektifnya kuliah daring, seperti telat absen karena sinyal yang buruk, tidak dapat mengikuti kuliah sampai akhir karena kuota yang tidak mencukupi, atau tugas yang terlalu banyak, serta tidak memiliki komputer atau android yang memadahi, lalu penjelasan dosen yang kurang bisa dipahami. Mahasiswa yang kurang mampu harus berjuang untuk dapat mengikuti perkuliahan.
Pada kuliah daring persaingan tidak hanya sekedar intelektual dan pemikiran kritis dari mahasiswa, tapi uang untuk mendapatkan kemudahan akses fasilitas dan pembelajaraan. Seperti dalam pengumpulan tugas, mahasiswa yang daerahnya memiliki sinyal buruk atau fasilitas kurang, terkadang harus telat dalam pengumpulan tugas, padahal ketepatan waktu juga menjadi penilaian dalam mengerjakan tugas. Para mahasiswa yang kurang mampu harus rela nilai mereka kalah dengan para mahasiswa yang memiliki akses internet cepat dan fasilitas yang memadahi.
Lalu jadwal kuliah daring yang tidak sesuai dengan jadwal kuliah pada biasanya, menyebabkan mahasiswa harus selalu membawa ponselnya kemanapun dan kapanpun. Padahal di rumah sangat berbeda dengan kita berada di kampus. Di Madura kita berada di Kos atau Asrama Mahasiswa tanpa ada orangtua, sedangkan ketika kita di rumah hidup bersama orangtua, tidak semua orangtua paham dengan kuliah daring, beberapa orangtua  tidak peduli dengan memberikan tugas rumah yang banyak. Tingkat setres dan tenaga yang dikeluarkan lebih banyak ketika kuliah daring, mahasiswa harus bisa membagi waktu kuliah, mengerjakan tugas, jadwal kelas, serta membantu orangtua.
Mengenai bantuan kuota dari pihak kampus UTM, kemarin  pada tanggal 15-22 April 2020 telah dilakukan pendataan rekening dan nomor telepon dari seluruh mahasiswa aktif UTM tahun ajaran 2019/2020, awalnya terjadi kendala ketika beberapa mahasiswa mengeluhkan tidak punya rekening atau tidak bisa mengupload scan buku tabungan karena ini merupakan salah satu syarat. Lalu pihak kampus mengubah persyaratan, jadi mahasiswa hanya perlu mengirimkan nomor telepon aktifnya yang kemudian nanti akan diisi pulsa sebesar Rp 150.000,-.
Memang untuk pengiriman pulsa tersebut memerlukan waktu, sejak ditutupnya pendataan pada tanggal 22 April 2020, sampai sekarang masih belum dikirim pulsa. Hal ini wajar karena pihak kampus harus benar-benar mendata dan mengirimkan pulsa ke setiap nomor masing-masing mahasiswa dengan tepat.
Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa bantuan ini sangat diperlukan oleh mahasiswa, mengingat perpanjangan kuliah daring sampai 26 Juni 2020, mahasiswa harus memiliki kuota yang cukup untuk dapat mengikuti kelas online, serta mengerjakan tugas-tugas.
Untuk kelancaran kuliah daring serta kenyamanan bersama, agar pembelajaran dapat bermanfaat serta tidak menambah beban pikiran dari mahasiswa. Dosen harus mengerti kondisi setiap mahasiswa, dari mulai finansial, hingga keluarga di rumah. Untuk absen, jika memang mahasiswa harus ketinggalan karena koneksi internet yang buruk, mahasiswa harus sigap melaporkan masalah ini ke dosen, kemungkinan dosen akan mengerti serta memberikan dispensasi.
Jadwal haruslah sesuai dengan jadwal sebelum kuliah daring, mengingat aktifitas mahasiswa di rumah tidak hanya kuliah saja, agar mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan dengan semestinya. Tapi pada kenyataannnya dengan kuliah daring dosen dengan mudahnya mengubah jadwal perkuliahan menyesuaikan kebutuhannya, hal ini memang boleh saja dilakukan. Tapi informasi setidaknya diberitahukannya tidak langsung pada hari itu, minimal sehari sebelum perkuliahan, agar semua mahasiswa mengetahui dan dapat mengikuti perkuliahan.
Kuliah daring merupakan salah satu solusi untuk tetap belajar dikala pandemi virus Covid-19 ini, tapi dengan sistem daring ini jangan sampai ada pihak yang termarginalkan dan haknya tidak terpenuhi. Dengan kuliah daring semoga semua pihak dapat menerima manfaatnya, sebagai mahasiswa dapat memperoleh ilmu, di pihak dosen dapat memantau perkembangan akademik mahasiswanya serta menyampaikan pembelajaran dengan baik. Agar dengan adanya pandemi ini mahasiswa tetap dapat produktif serta mengembangkan ilmunya.


Share:

Minggu, 01 Maret 2020

Ketika Media Merenggut Demokrasi




“Di antara sejumlah tanggung jawab yang diemban oleh pers yang bebas, tugas pers yang paling penting untuk ditegakkan adalah mencegah agar jangan sampai bagian manapun dari pemerintah menipu masyarakat,” demikian menurut Ketua Mahkamah Agung Hugo L. Black. Kata-kata ini bertolak belakang dengan kenyataan akhir-akhir ini dimana pers yang bertugas melindungi demokrasi bisa dikendalikan oleh pihak swasta.
Pada buku Matinya Media ini, disuguhkan gambaran kelam mengenai kebebasan pers yang dalam perkembangannya malah menjadi ancaman bagi demokrasi. Perkembangan industri media di Amerika beberapa dekade terakhir menunjukkan sikap anti-demokrasi. Kepemilikan korporasi semakin menggerus kualitas surat kabar. Setiap tahun, berbagai surat kabar memilih mengurangi jumlah reporter, editor, fotografer, desainer bahkan mengurangi ruang untuk berita. Setiap tahun semakin sedikit yang diperoleh pembaca. Setiap tahun semakin banyak orang beralih ke tempat lain untuk memperoleh berita.
Lewat pengaturan agenda (agenda setting) di mana media massa sebagai pengelolah isu, media  bisa saja dengan leluasa memberikan isu yang menjadi komoditas koorporasi, isu politik pun tak luput dari pemberitaan tanpa mempedulikan aspek isi dan kualitas untuk para pembacanya karena hanya ingin meraup keuntungan se hingga dapat melukai demokrasi.
Ketika media menayangkan gambaran para calon presiden, tangkapan baik buruk dari masyarakat tergantung dari media memilih perspektif mana. Apa yang diberitakan media menentukan presiden yang menang.
Media menunjukkan bagaimana berita kian lama kian tersingkirkan, jurnalis disensor dan cerita-cerita penting dikubur dalam-dalam. Buku ini menyerukan bahwa saat ini kita berada di era “pasca-jurnalisme”, di mana informasi tak lebih dari komoditas dan fakta tak lagi penting.
Penguasaan televisi di tangan pelaku pasar malah seperti mengerucutkan informasi yang membuat informasi tidak beragam. Saat ini, pemberitaan dipilih karena melihat keuntungan yang didapat bukan karena informasi yang bermutu.
Matinya media adalah ketika fungsi media untuk menyampaikan informasi dan fakta yang valid pada masyarakat menjadi alat bisnis. Para pemegang media saat ini mencari keuntungan yang sebesar-besarnya, tanpa peduli mutu dari suatu berita yang disampaikan.
Jika pembahasan dalam buku mengacu pada media di Amerika, lalu bagaimana di Indonesia? Pada saat orde baru, media di Indonesia sangat dibatasi dan dimonopoli oleh pemerintah. Pemerintah memegang kontrol penuh terkait apapun yang diberitakan media. Pada saat itu, kritik pada pemerintah akan berakhir pada pemberedelan.
Dengan berakhirnya kekuasaan Orde baru yang diganti oleh reformasi, media Indonesia kini mulai diberi kebebasan. Sekarang semua orang dengan mudah menyebarkan atau mendapat informasi apalagi ditambah kemajuan teknologi banyak akses untuk menyebarkan dan mendapat berita.
Kemudahan dan kemajuan teknologi ini juga tidak sepenuhnya membawa kebaikan untuk media dan demokrasi. Ketika semua informasi dapat disebarkan dan mudah didapat, banyak oknum jurnalis yang akhirnya cuma mementingkan keuntungan dengan menyebarkan berita clickbait  (umpan klik) yaitu gambar yang membuat para pembaca penasaran untuk membuka sebuah web atau artikel berita tanpa perduli isi.
Kurangnya literasi dari masyarakat Indonesia juga memperkeruh keadaan, ketika pembaca tidak mengkritisi sebuah berita dan langsung menerima informasi begitu saja, propaganda dari media dengan mudah diberikan kepada masyarakat. Contohnya ketika menjelang pemilihan presiden 2019, banyak pergolakkan antara kedua kubu lantaran orang Indonesia yang mudah tergiring opini-opini dari luar.
Pasalnya sebuah berita bisa menyebabkan perspektif masyarakat kepada calon presiden berubah sehingga merubah pilihan mereka. Media yang tahu akan hal ini, seakan memanfaatkannya berpolitik. Hingga akhirnya, terlihat jelas media seakan-akan terbagi menjadi 2. Media yang harusnya netral malah seperti berperan untuk mempromosikan salah satu pihak.
Terkait hal tersebut, peran pihak sipil agar media tidak terus mengalami keterpurukan dengan lebih kritis dalam membaca suatu pemberitaan sangat diperlukan. Jurnalisme harus sepenuhnya memberikan informasi pada publik yang bersikap sebagai pengawas pemerintah untuk menyelamatkan demokrasi.
Lebih dari itu, apa yang disampaikan buku ini merefleksikan kenyataan yang terjadi sekarang dengan rinci. Di buku ini disebutkan juga beberapa media yang terlibat ditambah dengan tawaran soluisi dari penulis. Menurut penulis, jurnalisme yang lebih baik dan berimbang perlu disuarakan. Dimana akar rumput harus bergerak dengan kuat, setidaknya orang tua harus selektif memilih tayangan yang informatif, guru mengajarkan bagaimana membaca media dan mengelolah informasi yang telah didapat dengan tepat, aktivis mendesak akuntabilitas korporasi, konsumen menuntut undang-undang antimonopoli, para pemantau media mengkritisi liputan berita.
Buku ini memang membahas media Amerika, tapi juga cukup untuk menggambarkan kondisi media Indonesia sehingga bisa dijadikan rujukan pembelajaran agar menjadi lebih baik. Selain itu, dengan buku ini, diharap media Indonesia dapat memahami penyebab kemunduran yang terjadi di media Amerika dengan tambahan solusi yang sudah dipaparkan penulis.

Share: